Survei Populi: Elektabilitas Ahok 45,5 Persen, Tidak Anjlok

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok bersama Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat menandatangani kontrak politik yang berisi bahwa keduanya sah diusung PDIP dalam pilkada DKI 2017, di Jakarta, 20 September 2016. TEMPO/Friski Riana

    Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok bersama Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat menandatangani kontrak politik yang berisi bahwa keduanya sah diusung PDIP dalam pilkada DKI 2017, di Jakarta, 20 September 2016. TEMPO/Friski Riana

    TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga-lembaga survei berturut-turut mempublikasikan hasil sigi pemilih Jakarta dalam pemilihan gubernur DKI 2017, dengan waktu survei yang berdekatan. Setelah Polmark Indonesia menerbitkan survei popularitas Gubernur Basuki Tjahaja Purnama yang terus merosot, kini Populi Center mengumumkan hasil sebaliknya.

    Dalam pengumuman hasil survei hari ini, 6 Oktober 2016, Populi menyebutkan elektabilitas Basuki-Djarot Syaiful Hidayat bertahan di angka 45,5 persen. Sementara Polmark dan Lingkaran Survei Indonesia menghasilkan angka tak jauh beda: 31,9 persen dan 31,1 persen. "Hasil survei bisa beda, kami ingin survei dilakukan secara berintegritas," kata Usep S. Ahyar, Direktur Populi Center dalam rilis "Arah Suara Pemilih DKI" di kantornya.

    Elektabilitas Basuki jika tak dipasangkan dengan Djarot sebesar 43,7 persen. Angka ini turun tipis dibandingkan Agustus 2016. Dalam survei Populi, Agustus lalu itu, Ahok menduduki posisi pertama dengan persentase 46,8 persen diikuti Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini 16,5 persen dan Sandiaga Uno 7,5 persen.

    Populi dipimpin Nico Harjanto, pengajar di Paramadina Post-Graduate Program. Seperti termuat dalam web Populi, duduk dalam Dewan Penasihat adalah Sunny Tanuwidjaja, staf khusus Gubernur Basuki. "Silakan diuji dan diaudit jika ada keraguan," kata Usep.

    BACA: Survei Polmark Elektabilitas Ahok Terus Anjlok

    Sementara Polmark dipimpin peneliti politik dan pengajar Universitas Indonesia, Eep Saefullah Fatah. Menurut survei Polmark, Basuki alias Ahok ditingglkan 5,5 persen pemilih loyalnya berdasarkan survei Juli dan Oktober. Menurut Eep, suara pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno naik karena itu pemilihan akan berlangsung dua putaran. "Hasil survei kami adalah alat pemetaan sekaligus panduan kerja pemenangan," kata dia.

    Dalam survei Populi ini, pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno mengantongi 23,5 persen. Sementara, Agus Harimurti dan Sylviana Murni di angka 15,8 persen. Elektablitas untuk individu calon gubernur tidak jauh berbeda, Anies Baswedan 24,5 persen dan Agus Harimurti 16,3 persen.

    BACA: Hasil Survei LSI, Denny JA: Ahok Bisa Kalah

    Tak hanya itu, dalam survei Populi disimpulkan bahwa pemilih loyal yang akan tetap memilih Ahok mencapai 32,17 persen. Angka ini berbeda cukup signifikan dibandingkan dengan perolehan pada survei Polmark. Dalam survei Polmark, pemilih yang loyal kepada Ahok sebaliknya turun, 28,2 persen di bulan Juli menjadi 23,2 persen di bulan Oktober. Perolehan angka tersebut, menurut Usep, masih normal.

    Survei Populi dilakukan selama 25 September hingga 1 Oktober 2016, dengan 600 responden. Survei dilakukan dengan metode multi-stage random sampling (MRS) dengan tingkat kesalahan kurang 4 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

    BACA: Soal Hasil Survei, Ahok Anggap Seperti Martabak

    Angka pemilih mengambang yang belum menentukan pilihan cukup tinggi. Swing voter, menurut Usep, sebanyak 34,7 persen, sehingga masih potensial untuk diperebutkan oleh ketiga pasang calon.

    Fajar Pebrianto | YY

    Baca juga:
    Keterpilihan Ahok Merosot: Inilah 3 Hal Menarik & Mengejutkan
    Heboh Manifesto Komunis: Polisi Gegabah Sita Buku Malaysia


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komentar Yasonna Laoly Soal Harun Masiku: Swear to God, Itu Error

    Yasonna Laoly membantah disebut sengaja menginformasikan bahwa Harun berada di luar negeri saat Wahyu Setiawan ditangkap. Bagaimana kata pejabat lain?