Dihantui Korban, Dukun Anton Kini Rajin Mengaji di Penjara

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi pembunuhan. Tempo/Indra Fauzi

    ilustrasi pembunuhan. Tempo/Indra Fauzi

    TEMPO.CO, Depok - Anton Hardianto alias Aji mengaku terus dibayang-bayangi kedua korban yang dibunuhnya dengan kopi yang dicampur potasium sianida. Lebih dari sebulan, wajah Shendy Eko Budianto (27 tahun) dan Ahmad Sanusi (21 tahun) masih terus menyelinap masuk dalam ingatan Anton di balik jeruji besi penjara.

    "Saya menyesal. Setiap hari terus dibayangi wajah mereka (Shendy dan Ahmad)," kata Anton, di sela rekonstruksi adegan pembunuhan di Lapangan Kampung Serab, Sukmajaya, Depok, Rabu, 9 November 2016.

    Anton nekat membunuh kedua korban karena terhimpit masalah ekonomi. Anton mempunyai empat orang istri, dua di antaranya dinikahi secara siri. "Saya menyesal," kata Anton, mengulang ucapannya.

    Untuk menghilangkan bayang-bayang korbannya, Anton mengaku rajin mengaji Al-Quran di dalam penjara. Anton juga mengaku kini lebih dekat dengan Tuhan. "Saya jadi mengaji selama di penjara."

    Anton membunuh korbannya dengan kopi yang dicampur potasium sianida di Lapangan Kampung Serab pada Jumat malam, 30 September 2016. Setelah membunuh kedua korbannya, dukun abal-abal tersebut membuang dua mayat korban di tempat terpisah.

    Mayat Shendy dibuang di kali di Jalan Pertanian Raya RT 5 RW 4, Kelurahan Grogol, Kecamatan Limo. Sedangkan mayat Ahmad dibuang di dalam drainase di Jalan Makam Kopo RT 9 RW 9, Kelurahan/Kecamatan Limo, Sabtu, 1 Oktober 2016.

    Kurang dari 24 jam, Anton berhasil ditangkap bersama temannya berinisial R di Tulang Bawang, Lampung. Tersangka dijerat Pasal 340 KUHP mengenai pembunuhan berencana.

    "Ancamannya seumur hidup," kata Wakil Kepala Kesatuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Kota Depok Ajun Komisaris Firdaus.

    IMAM HAMDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.