Lahan Terbatas, Depok Integrasikan Pertanian dengan Ternak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang petani membajak sawahnya saat memulai masa tanam di Desa Grogol, Depok, Jawa Barat, Senin (1/12). TEMPO/Gunawan Wicaksono

    Seorang petani membajak sawahnya saat memulai masa tanam di Desa Grogol, Depok, Jawa Barat, Senin (1/12). TEMPO/Gunawan Wicaksono

    TEMPO.CO, Depok - Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Depok mulai melakukan sistem integrasi tanaman dan ternak tahun ini. Kepala Seksi Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas KPPP, Harry Adam Fauzi, mengatakan kegiatan tersebut dibuat untuk peningkatan program ketahanan pangan dan holtikultura.

    “Sistem integrasi tanaman dan ternak akan diuji coba Februari 2017 di kawasan persawahan di Kecamatan Tapos,” kata Harry, Jumat, 3 Februari 2017. Untuk menjalankan program itu, kata Harry, pihaknya telah menunjuk satu kelompok tani yang beranggotakan 20 orang. “Kawasan percontohannya akan mengintegrasikan tanaman padi dengan sapi,” ujar Harry.

    Baca: Lahan Makin Sempit, Depok Lirik Pertanian Berbasis Teknologi

    Menurut Harry, sistem integrasi tersebut akan menggunakan sisa padi menjadi makanan ternak, dan kotoran sapinya bakal dibuat pupuk menggunakan molase dan bakteri untuk fermentasi.  “Kotoran sapi yang difermentasi bakal menjadi pupuk organik yang bisa menyuburkan sawah di Depok,” kata Harry.

    Harry mengatakan, pemerintah telah menyediakan dua ekor sapi untuk diintegrasikan dengan sawah seluas 66 hektare di Tapos. Pada 2016 Depok masih mempunyai 127 hektare lahan persawahan yang tersebar di Kecamatan Tapos, Sawangan, Bojongsari, Limo, Cipayung, dan Cilodong.

    “Bahkan, setahun areal persawahan di Depok mampu menghasilkan 1.500 ton padi, yang dikonsumsi petaninya sendiri,” ujar Harry. Adapun total lahan pertanian pangan, holtikultura, perikanan, dan peternakan, masih tersisa sekitar 500 hektare.

    Depok, jar Harry, bakal melakukan penyesuaian luas lahan pertanian yang berada di dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Depok, karena luasnya berkurang. “Di Perda RTRW sudah ditetapkan lahan pertanian 529 hektar. Tapi, ada pemilik lahan yang ditetapkan sebagai lahan pertanian ingin menggunakan lahannya," ujarnya. "Nanti ada penyesuaian."

    Selain sistem integrasi tanaman dan ternak, pemerintah Kota Depok juga telah mengintegrasikan penanaman sayuran dan kelinci sejak November 2016. Juga mengintegrasikan penanaman sayuran dan perikanan. “Air seni kelinci baik untuk sayuran. Kini sedang diuji coba di Balai Penyuluhan Pertanian, terlebih dulu. Setelah itu baru diuji coba ke warga,” ucap Harry.

    Baca: Depok Tetapkan 529 Hektare Lahan untuk Zona Pertanian

    Dengan sistem pengintegrasian pola tanam tersebut, ujar Harry, diharapkan bisa meningkatkan penghasilan petani di Depok. “Semangatnya kami mau ubah dari sistem mono kultur dalam pertanian, menjadi pengintegrasian yang beragam dengan mengadopsi sedikit teknologi,” kata Harry.

    IMAM HAMDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.