Selasa, 24 September 2019

Ahok Cuti, Pengaduan Warga Jakarta ke Balai Kota Menurun  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • (ki-ka) Sekjen Departemen Dalam Negeri, Yuswandi A Temenggung, Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Djarot Saiful Hidayat, dan Plt. Gubernur DKI Sony Soemarsono dalam acara serah terima jabatan di Balaikota, Jakarta, 6 Maret 2017. TEMPO/Amston Probel

    (ki-ka) Sekjen Departemen Dalam Negeri, Yuswandi A Temenggung, Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Djarot Saiful Hidayat, dan Plt. Gubernur DKI Sony Soemarsono dalam acara serah terima jabatan di Balaikota, Jakarta, 6 Maret 2017. TEMPO/Amston Probel

    TEMPO.CO, Jakarta - Hari pertama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok nonaktif sebagai Gubernur DKI Jakarta, tak terlihat lagi antrean warga yang mengadu ke Balai Kota. Sejak pukul 07.30, tercatat hanya tiga orang yang ingin melakukan pengaduan ke gubernur.

    Saat Ahok menjadi gubernur setelah cuti pada putaran pertama pilkada DKI, antrean warga Jakarta yang hendak mengadu selalu penuh di pendopo Balai Kota. Hari ini, Ahok mulai cuti kembali untuk putaran kedua pilkada dan digantikan pelaksana tugas, Sumarsono.

    Aduan tersebut di antaranya soal biaya pengobatan anak yang lahir prematur, perumahan, dan mengantar undangan.

    Baca: Mengadu ke Ahok, Ini Daftar Keluhan Warga Jakarta

    Dibanding hari sebelumnya, pengunjung yang tercatat di buku tamu ada lebih dari 20 orang. Misalnya, pada Senin kemarin atau sehari sebelum Ahok cuti, 55 orang mendaftar untuk pengaduan. Namun pengunjung yang datang terlihat lebih banyak dan ada yang tidak tercatat.

    Sampai pukul 08.30, sekitar sepuluh orang telah berkunjung dan sudah ditangani masing-masing petugas dari satuan kerja perangkat daerah. Pelaksana tugas Gubernur DKI Jakarta, Sumarsono, pun hanya melayani aduan dua pengunjung secara langsung dengan tatap muka ketika ia tiba di pendopo. Salah satunya Febriana Hutapea.

    Wanita 38 tahun itu hendak meminta pekerjaan sebagai penyapu jalanan dan sampah-sampah tanaman pohon. Febriana menuturkan sudah melamar pekerjaan di beberapa tempat, tapi ditolak. Sehingga ia mengajukan diri bekerja di bawah Pemprov DKI. "Bagian sampah saja, Pak. Saya senang merawat taman," kata Febriana.

    Sumarsono pun merekomendasikan Febriana menjadi pekerja harian lepas di Dinas Pertamanan dan Kehutanan DKI. Setelah itu, Soni dan Febriana bersalaman. "Horas," ujar Soni ketika mengetahui wanita tersebut dari suku Batak.

    FRISKI RIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Imam Nahrawi dan Para Menteri di Pusaran Korupsi

    KPK menetapkan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi sebagai tersangka. Artinya, dua menteri kabinet Presiden Joko Widodo terjerat kasus korupsi.