Wali Kota Bekasi Diundang ke Vatikan untuk Kepentingan Ini  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi usai melakukan pertemuan di Balaikota, Jakarta, 25 November 2015. TEMPO/M IQBAL ICHSAN\

    Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi usai melakukan pertemuan di Balaikota, Jakarta, 25 November 2015. TEMPO/M IQBAL ICHSAN\

    TEMPO.CO, Bekasi - Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi akan menghadiri undangan di Vatikan pada akhir Mei 2017. Undangan itu berkaitan dengan toleransi antarumat beragama. Saya sebagai Wali Kota Bekasi diundang ke sana bersama dengan Mbak Yenny Wahid (putri mendiang Abudurrahman Wahid), kata Rahmat, Selasa, 7 Maret 2017.

    Selain Yenny, kata Rahmat, ada seorang lagi yang mendapat undangan serupa. Orang tersebut dianggap sebagai pengamat toleransi antaragama. Namun Rahmat tidak ingat nama tokoh tersebut.

    Rahmat mengatakan, di Vatikan nanti, ia akan menyampaikan masalah toleransi beragama di Kota Bekasi. Jumlah penduduk Kota Bekasi saat ini sebanyak 2,6 juta jiwa. Kehidupan masyarakatnya sangat heterogen, tapi bisa tinggal berdampingan untuk menciptakan suasana damai. Untuk berangkat, saya akan minta izin dulu kepada Gubernur, ujar Rahmat.

    Rahmat mengklaim konsisten untuk menjaga toleransi antaragama di wilayahnya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan membentuk majelis umat. Majelis ini menjadi motor toleransi antarumat beragama di Kota Bekasi. Kehadiran majelis menjadi perpanjangan Forum Komunikasi Umat Beragama hingga tingkat kelurahan dan diharapkan bisa bersentuhan langsung dengan masyarakat.

    Majelis umat menjaga umat tiap-tiap agama dengan membimbing umat mereka menjaga nilai-nilai pluralisme yang diajarkan agama masing-masing,” katanya.

    Menurut Rahmat, majelis umat harus menyampaikan pentingnya toleransi umat beragama serta menjunjung tinggi nilai Pancasila dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Di Kota Bekasi pemeluk Islam berjumlah 2 juta jiwa, Katolik 65 ribu jiwa, Buddha 12 ribu jiwa, Kristen Protestan 195 ribu jiwa, Hindu 47 ribu jiwa, dan Konghucu 196 jiwa.

    Kota Bekasi harus menjadi salah satu miniatur umat beragama, tidak ada lagi kaum minoritas atau mayoritas. Hak warga Kota Bekasi sama, tidak dibeda-bedakan, ujar Rahmat.

    ADI WARSONO



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.