Minggu, 22 September 2019

Pilkades E-Voting di Bogor, Yang Bingung Disoraki

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas memperlihatkan kartu untuk mengoperasikan alat teknologi E-Voting, di gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta, 29 Juli 2015. Program E-voting ini untuk mendukung KPU dalam mencegah kecurangan penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah serentak 2015 sejak perhitungan di tempat pemungutan suara, rekapitulasi di Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan di kabupaten/kota. TEMPO/Imam Sukamto

    Petugas memperlihatkan kartu untuk mengoperasikan alat teknologi E-Voting, di gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta, 29 Juli 2015. Program E-voting ini untuk mendukung KPU dalam mencegah kecurangan penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah serentak 2015 sejak perhitungan di tempat pemungutan suara, rekapitulasi di Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan di kabupaten/kota. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Bogor - Sesekali suara sorak sorai dan tertawa dari ribuan warga yang yang memadati lapangan Rawa Cekek, RT 03 RW 05, Desa Babakan, Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor, Ahad, 12 Maret 2017.  Mereka sedang merayakan pesta demokrasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak.

    Berbeda dengan 35 desa yang menggelar pilkades dengan cara manual di sentero Kabupaten Bogor, sedangkan di Desa Babakan berbeda sendiri: menggunakan sistem elektonic voting (e-voting).

    Baca: Pilades E-Voting, Bupati Bogor: Efektif dan Validasi Lebih Baik

    Karena, ini sistem e-voting pertama kali yang diterapkan di Kabupaten Bogor dan di Provinsi Jawa Barat, amat wajar kalau mengundang minat para pemilih. Bahkan, dari desap-desa sekitar pun banyak warga yang menonton.

    Bagi warga, ini hiburan tersendiri. Setiap kali ada teman mereka yang berlama-lama saat memilih di dalam bilik suara, selalu saja ada yang menyorakinya. Umumnya, mereka diledek karena sudah dipastikan sedang kebingungan menghadapi teknologi canggih: komputer.

    Gugup karena bingung terlihat dari raut wajah mereka. Ahmad Solihin, 42 tahun, salah seorang pemilih mengaku merasa aneh, karena belum terbiasa menggunakan sistem e-voting saat memilih. “Kalau dulu kan biasanya milih kades, bupati, presiden saya tinggal coblos fotonya mengunakan paku, sekarang menggunakan layar komputer,” kata Solihin.

    Solihin mengaku menjadi ragu saat melihat foto salah satu calon kepala desa itu yang hanya tinggal disentuh. Dampaknya, dia haus memerkukan waktu yang lebih lama untuk berpikir dibandingkan dengan mencoblos menggunakan kertas. “Tapi sekarang saya sudah tahu kalau nanti pemilihan menggunakan cara seperti ini,” kata Solihin.

    Menurut Solihin, rangkaian untuk menunggu dipanggil memilih lebih cepat ketimbang manual, karena dirinya tinggal menunjuka e-KTP yang sudah dia miliki. Setelah itu dirinya mendapatkan kartu yang mirip kartu ATM. “Nah, saat di bilik suara itu yang agak bingung, karena kartu itu harus dimasukkan ke alat, baru deh bisa memilih,” kata Solihin.

    Kepala Program E-Pemilu Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Andrari Grahitandaru mengatakan konsep E-Voting merupakan salah satu metode pemilihan secara elektronik guna mencegah terjadinya kecurangan pada kegiatan pemilihan suara.

    Kecurangan bisa terjadi oleh beberapa factor. Misal. jika ada Nomor Induk Keluarga (NIK) ganda, maka konsekuensinya si pemilik NIK ganda tersebut akan mendapatkan ciri khusus, sehingga pemilik NIK (ganda) tidak bisa dengan mudah melakukan kecurangan. “Jadi, dengan pelaksanaan pemilihan umum menggunakan sistem elektronik ini untuk mencegah oknum panitia dan pemilih yang nakal,” ucap Andrari.

    Andrari mengatakan, jika kecurangan-kecuranagn banyak terjadi di Data Pemilih Tetap (DPT), disistem E-Votingnya sendiri tidak ada kecurangan, karena tidak ada surat suara yang tidak sah, penghitungan akurat dan cepat.

    Baca juga: KPU Kaji Pakai E-Voting dalam Pilkada Serentak

    Oleh karena itu, Andriarti menambahkan, sejak akhir 2015, pemerintah ingin melakukan pilkades secara e-voting. “Untuk Pilkades di desa ini ada 10374 orang pemilih yang sudah terfervikasi melalui e-KTP,” ucap Andriari.

    M SIDIK PERMANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Imam Nahrawi Diduga Terjerat Dana Hibah

    Perkara dugaan korupsi Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi bermula dari operasi tangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi pada 18 Desembe