Rabu, 21 Februari 2018

Kenapa Kampung Betawi Tergusur? Ini Penjelasan Arkeolog

Oleh :

Tempo.co

Senin, 20 Maret 2017 13:57 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kenapa Kampung Betawi Tergusur? Ini Penjelasan Arkeolog

    Rumah adat Betawi yang dipamerkan dalam Lebaran Betawi di Lapangan Banteng, Jakarta, 14 Agustus 2016. TEMPO/Friski Riana

    TEMPO.CO, Jakarta - Arkeolog Universitas Indonesia Candrian Attahiyat  mengatakan tergusurnya perkampungan Betawi di Ibu Kota sebagai imbas dari pembangunan.  Penggusuran itu telah berlangsung sejak era Muhammad Husni Thamrin, saat dia aktif di pemerintahan antara 1919-1940. Langkah ini dilakukan Husni untuk menata ulang bentuk perkampungan yang saat itu tidak beraturan.

    Candrian menyampaikan pendapatnya itu saat menjadi pembicara dalam diskusi “Orang Betawi dan Situs Sejarah Betawi” di Komunitas Bambu Jalan Taufiqurahman, Beji Timur, Depok, Ahad, 19 Maret 2017.

    Arkeolog yang pernah menjadi Kepala Seksi Penulisan Sejarah Jakarta pada Dinas Museum dan Sejarah DKI itu mengatakan, ciri perkampungan Betawi pada masa kolonial adalah pembangunan rumah secara sporadis sehingga tidak beraturan dan jalan berkelok-kelok. Husni berinisiatif menata perkampungan itu agar bentuknya terlihat rapih dan menjadi kota yang lebih baik. Di sinilah dia mulai menggusur perkampungan Betawi.

    "Yang awalnya jalanan tidak beraturan dibuat lurus-lurus sehingga menjadi ciri perkotaan," ucapnya. "Sejak 1905 ciri rumah betawi yang tidak punya pagar, mulai tergantikan dengan bangunan yang mampunyai paga rrumah. Perubahan kultur mulai terjadi saat itu."

    Baca: Lima Kampung Ini Menjadi Cikal Bakal Kota Betavia

    Pada era Gubernur Ali Sadikin, pembangunan kawasan Mangga Dua dibagi menjadi dua, yakni di sisi utara dan selatan. Ali Sadikin mencaplok kawasan Marunda dan Kamal untuk membangun perkotaan. Rumah berpagar mulai tumbuh seiring diberlakukannya Undang-undang Agraria pada 1960. Sejak saat itu, sudah jarang ditemui pagar rumah orang Betawi yang dibatasi pohon melinjo, sawo, dan sawo kecik. Padahal, pagar pohon menjadi ciri khas rumah orang Betawi.

    Menurut Candrian, saat ini perlu ada upaya untuk melestarikan budaya Betawi. Jangan sampai budaya Betawi tersisihkan, seperti masyarakatnya. "Masyarakatnya memang sudah terpinggirkan. Tapi, budayanya harus bisa dikembalikan ke  tengah Jakarta," ucapnya.

    Candrian mencontohkan film Si Doel Anak Sekolahan. Film itu menyajikan budaya Betawi yang ternyata disukai berbagai suku bangsa di Indoneisa. "Mulai dari orang Batak, Jawa, dan lainnya menyukai lakon yang disajikan mengenai orang Betawi pada serial tersebut."

    Selain itu, pergeseran kampung Betawi di Jakarta seperti keberadaan supermarket, yang masuk ke kampung. Setiap pembangunan, kata Candrian, dipastikan berdampak pada perubahan kultur. Namun, budaya tidak bisa dipasung, karena sifatnya yang dinamis.

    Meski keberadaan kampung Betawi sudah tidak ada lagi di Jakarta, tapi budayannya masih bisa disesuaikan. "Secara kultur orang Betawi mengalah. Mereka pindah dan bergeser. Bahkan, mereka akan kehilangan itu, jika tidak mau lagi meramaikan kultur Betawi," ucapnya.

    IMAM HAMDI


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    NAM Air Tepat Waktu, Maskapai dengan OTP Terbaik di Asia Pasifik

    Kementerian Perhubungan mengumumkan bahwa NAM Air dan empat maskapai lain memiliki OTP rata-rata di atas standar Asosiasi Maskapai Asia Pasifik.