Begini Cara Polisi Menemukan Pabrik Obat Panu Palsu

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Salep Kulit 88 yang diduga palsu tersusun di ruang tengah sebuah rumah di Taman Surya II blok B3, Kelurahan Pegadungan, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat. Polisi Badan Reserse Kriminal Polri menggerebek rumah itu pada Kamis, 6 April 2017. Tempo/Rezki Alvionitasari.

    Salep Kulit 88 yang diduga palsu tersusun di ruang tengah sebuah rumah di Taman Surya II blok B3, Kelurahan Pegadungan, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat. Polisi Badan Reserse Kriminal Polri menggerebek rumah itu pada Kamis, 6 April 2017. Tempo/Rezki Alvionitasari.

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Reserse Kriminal Polri menelusuri keberadaan pabrik salep obat panu palsu dalam waktu sekitar satu minggu. Kepala Subdirektorat III Direktorat Tindak Pidana Narkotika, Komisaris Besar Hendrik Marpaung, mengatakan awalnya, beberapa informan memberitahu tentang adanya salep yang diduga palsu beredar di pasaran.

    "Kami melakukan penyelidikan selama seminggu dan kami temukan lokasinya," kata Hendrik kepada wartawan, Kamis, 6 April 2017. Lokasi pabrik rumahan salep kulit yaitu di Taman Surya 2 Blok B3 Nomor 6, Kelurahan Pegadungan, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat.

    Saat menggerebek rumah satu lantai bercat putih itu, polisi melihat tiga orang tengah membuat obat palsu dengan merk Salep Kulit 88. Di rumah itu juga ditemukan sekitar 20 ribu botol salep. Tingginya sekitar 2 sentimeter dan diameter 1 sentimeter.

    Baca: Polisi Gerebek Pabrik Rumahan Salep Obat Panu Palsu  

    Hendrik mengatakan salep ini berbahan jel, perasa mint, dan bahan kimia. Salep Kulit 88 dikenal sebagai salep untuk mengatasi gatal-gatal, panu, kadas, kurap, dan sebagainya.

    Tiga orang yang tertangkap basah membuat salep itu ditetapkan tersangka. Mereka adalah Yackson alias Jay, 38 tahun; Usman Halim alias Alex, 36 tahun; dan Djunaidi alias Atik, 47 tahun. "Pemiliknya belum kami temukan tapi sudah kami ketahui inisialnya," ujar Hendrik.

    Hendrik menjelaskan pabrik ini termasuk industri rumahan namun bisa menghasilkan ratusan juta per bulan. "Kami belum lakukan uji laboratorium untuk menentukan produk ini berbahaya atau tidak," ujar Hendrik. Menurut pengakuan ketiga tersangka, kata Hendrik, salep ini sudah dipasarkan sekitar setahun belakangan. "Sepertinya banyak di kalangan daerah. Mungkin sudah tersebar di Jakarta dan Jawa karena secara kuantitas cukup banyak ditemukan," ujarnya.

    Ketiga tersangka dikenakan pasal dalam Undang-Undang Kesehatan karena tidak memiliki izin edar dan tidak ada pengawasan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM. Hendrik mengatakan penyidik masih akan mengembangkan kasus ini, yakni dengan mencari pemilik usaha ini serta menelusuri pembuat kemasan salepnya.

    REZKI ALVIONITASARI



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Pemberantasan Rasuah Indonesia di Hari Antikorupsi Sedunia

    Wajah Indonesia dalam upaya pemberantasan rasuah membaik saat Hari Antikorupsi Sedunia 2019. Inilah gelap terang Indeks Persepsi Korupsi di tanah air.