Krisis Menahun, Tangerang Fokuskan Air Bersih untuk Warga Pesisir

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana Desa Kohod, Pakuhaji, Kabupaten Tangerang yang dijadikan contoh Kampung Sejahtera. JONIANSYAH HARDJONO

    Suasana Desa Kohod, Pakuhaji, Kabupaten Tangerang yang dijadikan contoh Kampung Sejahtera. JONIANSYAH HARDJONO

    TEMPO.CO, Tangerang - Pemerintah Kabupaten Tangerang tengah memprioritaskan layanan air bersih dan minum untuk warga pesisir pantai Utara Tangerang. Langkah ini dilakukan karena kualitas air tanah yang digunakan penduduk sudah sangat buruk karena intrusi air laut. "Untuk itu program pemenuhan air bersih kami fokuskan di wilayah Utara (pesisir)," kata Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar, Jum'at, 14 April 2017

    Misi Pemerintah Kabupaten Tangerang dan PDAM Tirta Kerta Raharja saat ini adalah melayani seluruh perkampungan di wilayah pesisir dari Pantai Dadap hingga Kronjo. "Caranya menggunakan pipanisasi atau membangun terminal air," ujar Zaki.

    Baca:
    Kota Tangerang Tambah Sambungan Air Bersih Untuk ...
    PDAM Tangerang Prioritaskan Pelanggan Baru Kawasan ...

    Program air bersih bagi warga pinggir pantai ini dimulai dari Desa Kohod, salah satu desa yang dijadikan projek Gerbang Mapan (Gerakan Pembangunan Masyarakat Pesisir). "Akan dilanjutkan ke desa lain seperti Desa Tanjung Burung, Dadap, Cituis dan lainnya."

    Di Desa berpenduduk 8000 jiwa ini, PDAM TKR membangun terminal air berkapasitas 5000 liter. Terminal air dibangun di tengah perkampungan dan warga mengambil air dengan cuma cuma. "Kalau gratis kami mau, tapi kalau bayar sama aja bohong," ujar Ruminah, 40 tahun, warga Kohod kepada Tempo. Ia menolak membayar karena selama ini sudah membeli air dengan harga tinggi.

    Baca juga:
    Perdagangan 5 Perempuan ke Malaysia, Begini Modusnya
    Kedua Pasangan Calon Dinilai Gagal Sampaikan Program dalam Debat

    Ruminah mengatakan karena air sumur kampung itu berwarna merah dan ada juga yang kekuningan, mereka khawatir mengkonsumsinya. "Kami harus beli air untuk minum dan makan.” Satu jeriken Rp5000, atau Rp4000 per galon per hari.

    Bona, 45 tahun, warga lainnya mengeluhkan kesulitan air bersih yang berlangsung selama puluhan tahun. "Lebih mahal harga air ketimbang pendapatan kami," ujar wanita tambun ini.

    Kepala Desa Kohod, Romawan mengatakan sebagian besar warganya hidup miskin yang bekerja sebagai petani dan nelayan. "Sebanyak 60 persen warga miskin dengan pendapatan tidak menentu.”

    JONIANSYAH HARDJONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.