Spanduk Penolakan 1.500 Meter Sambut Presiden Bush

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Sebagian warga Bogor membubuhkan tanda tangan di atas spanduk sepanjang 1.500 meter sebagai bentuk penolakan terhadap rencana kehadiran Presiden Amerika Serikat George Walker Bush ke Istana Bogor pada 20 November. Pengumpulan tanda tangan dilakukan seusai salat Jumat di dua tempat: di depan Masjid Raya Bogor dan Masjid Agung. Masing-masing spanduk sepanjang 300 meter. Pengumpulan tanda tangan massal ini dikoordinasikan oleh Pusat Pengembangan Islam Bogor bersama organisasi massa Islam lainnya di kota itu. Dari pantauan di lokasi, warga antusias membubuhkan tanda tangannya. Cukup satu setengah jam, dua spanduk berwarna putih itu sudah penuh berisi tanda tangan. Tak hanya jemaah masjid, warga yang melintas di Jalan Raya Pajajaran pun ikut berpartisipasi menandatangani. Sejumlah komentar menyertai tanda tangan, misalnya, "Bush the real terrorist". Seorang ibu rumah tangga yang ikut tanda tangan merasakan pahitnya kedatangan Presiden Bush. Ini gara-gara jalur angkutan ikut diubah. "Suami saya jadi tidak narik angkot," kata wanita yang tak mau disebut namanya itu. Menurut Asnawi Marzuki, warga lainnya, perubahan jalur itu bentuk pemaksaan agar warga mengalah. Begitu juga dengan penutupan sejumlah kantor layanan masyarakat, seperti bank. "Anak sekolah pun jadi libur." Asnawi juga ikut tanda tangan di spanduk. Setelah penuh, kain itu digulung untuk disimpan. Menurut Guntur, pengurus Pusat Pengembangan Islam Bogor, spanduk tanda tangan penolakan terhadap Bush tak hanya dua itu. Hari ini, kata koordinator spanduk solidaritas rakyat tersebut, akan digelar tiga spanduk lain dengan ukuran panjang yang sama, yaitu 300 meter. "Jadi total ada lima spanduk dengan panjang masing-masing 300 meter. Semua jadi 1.500 meter spanduk," ujarnya. ENDANG PURWANTI

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komentar Yasonna Laoly Soal Harun Masiku: Swear to God, Itu Error

    Yasonna Laoly membantah disebut sengaja menginformasikan bahwa Harun berada di luar negeri saat Wahyu Setiawan ditangkap. Bagaimana kata pejabat lain?