Djarot Minta Warga Awasi PNS yang Gunakan Mobil Dinas untuk Mudik  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pegawai negeri di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengikuti upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-109 Tahun yang dipimpin oleh Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat di Monas, Jakarta, 20 Mei 2017. ANTARA FOTO

    Pegawai negeri di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengikuti upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-109 Tahun yang dipimpin oleh Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat di Monas, Jakarta, 20 Mei 2017. ANTARA FOTO

    TEMPO.COJakarta - Pelaksana tugas Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat, meminta masyarakat turut membantu mengawasi kendaraan dinas pegawai negeri sipil (PNS) yang dipakai untuk mudik Lebaran. "Perlu (pengawasan masyarakat), asalkan betul-betul objektif," kata Djarot di Balai Kota DKI, Senin, 12 Juni 2017.

    Menurut Djarot, PNS seharusnya malu jika ada pejabat mudik menggunakan kendaraan dinas. Sebab, gaji dan tunjangan kinerja daerah yang mereka dapatkan sudah cukup besar. 

    Baca: 
    Arus Mudik, Dishub Jateng: Ada Mobil Pemandu di ... 
    Kota Kediri Bebaskan Pejabat Mudik dengan Mobil Dinas

    Selain itu, kendaraan dinas merupakan fasilitas dari pemerintahan yang digunakan hanya untuk menunjang operasional pekerjaan. "Bukan untuk acara keluarga.” Apalagi jika mudiknya sampai jauh ke Sumatera, misalnya. “Atau ke Jawa Timur, pulang ke Blitar. Waduh, jangan," ujarnya.

    Djarot pun mengancam akan memotong tunjangan kinerja daerah (TKD) para pegawai yang terbukti menggunakan mobil dinas untuk mudik. Sanksi itu, kata Djarot, akan langsung diberikan karena pemerintah DKI memiliki teknologinya. "Kami lihat atas nama siapa, kan keterlaluan, ya," katanya.

    Baca juga:
    Video Rizieq di Mekah, Kapolda: Sudahlah Pulang, Takut Banget...  
    Transjakarta Koridor 13, Banten Diminta Bantu Bikin Elevate

    Namun, Djarot mengingatkan, jangan sampai pengawasan itu disalahgunakan untuk kepentingan tertentu dengan sengaja mencari-cari kesalahan. “Jangan sampai karena perasaan tidak suka, dendam, supaya jatuh dan dikenai sanksi. Oh, itu jahat banget."

    Djarot mencontohkan kemungkinan adanya manipulasi laporan. "Misalnya foto, padahal itu bukan Lebaran sekarang, tapi dua tahun yang lalu. Bisa saja hal-hal (terjadi) seperti ini, lho." Ia ingin masyarakat dewasa, begitu juga dengan pemerintah, yang berkewajiban melayani warga.

    FRISKI RIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.