Bullying di Gunadarma, Psikolog: Orang Yang Menonton Juga Pelaku

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi bullying. Tempo/Indra Fauzi

    ilustrasi bullying. Tempo/Indra Fauzi

    TEMPO.CO, Jakarta - Psikolog Universitas Indonesia, Ratna Djuwita, mengatakan kasus bullying di Universitas Gunadarma, Depok, merupakan sinyal merah bahwa ada yang salah di masyarakat dan sekolah. Sebab, pendidikan belum mampu menciptakan manusia yang bertaqwa dan berakhlak seperti yang diamanatkan undang-undang pendidikan.

    "Kalau sampai mahasiswa melakukan seperti itu, memang ada yang salah dalam sistem pendidikan," kata Ratna. Dalam kasus bullying, ujar Ratna, yang salah bukan hanya pelaku, tetapi orang di sekitar yang menonton bullying juga sebagai pelaku.

    Baca: Universitas Gunadarma Benarkan Ada Insiden Bullying di Kampusnya

    "Sebab, pelaku bullying yang dicari adalah rekognisi orang di sekitarnya. Apalagi kalau sampai yang melihat tertawa," ucap Ratna.

    Dalam video berdurasi 14 detik yang telah viral sejak akhir pekan lalu, sejumlah mahasiswa Jurusan Sistem Informatika Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi Universitas Gunadarma angkatan 2016 di Depok, merisak teman seangkatan mereka yang berkebutuhan khusus, MF.

    Dikatakan Ratna, biasanya pelaku bullying mempunyai pengalaman serupa saat masih kecil. Namun, tidak semua pelaku bullying melakukan tindakan tercela tersebut, karena faktor masa lalu. "Ada juga yang iseng dan pelampiasan kemarahan atas masalah lain," ujar Ratna.

    Baca juga: Universitas Gunadarma Benarkan Ada Insiden Bullying di Kampusnya

    Kedepan, Ratna berharap, tidak ada lagi kasus serupa terjadi di institusi pendidikan. Ratna meminta yang melihat kasus bullying bisa mencegahnya. "Yang di Gunadarma, sangat menyedihkan. Yang melihat malah tertawa dan tidak membantu. Padahal tindakan bullying tersebut sangat membuat malu korban," ucap Ratna.

    IMAM HAMDI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.