250 Titik Penjualan Daging Ayam di Bekasi Tidak Sehat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga membei ayam petelur afkiran yang harganya melonjak sampai Rp 40.000 per kg di Pasar Cicadas, Bandung, Jawa Barat, Sabtu, 24 Juni 2017. Ayam, itik, dan kulit ketupat, menjadi komoditi yang harus dibeli jelang Hari Raya Idul Fitri 1438 H.  TEMPO/Prima Mulia

    Warga membei ayam petelur afkiran yang harganya melonjak sampai Rp 40.000 per kg di Pasar Cicadas, Bandung, Jawa Barat, Sabtu, 24 Juni 2017. Ayam, itik, dan kulit ketupat, menjadi komoditi yang harus dibeli jelang Hari Raya Idul Fitri 1438 H. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.COBekasi - Sedikitnya 250 titik penjualan daging ayam di Kota Bekasi rentan terkontaminasi berbagai penyakit. Penyebabnya, tempat penjualan daging ayam menyatu dengan pemotongan hewan unggas tersebut.

    "Mayoritas di pasar tradisional," kata Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Perikananan Kota Bekasi Satia Sriwijayanti, Kamis, 20 Juli 2017. Menurut Satia, jumlah tersebut bisa saja lebih banyak, karena masih banyak yang belum terdata pemerintah.

    BacaRumah Potong Unggas Rawa Kepiting Tak Terima Pemotong Baru

    Menurut Satia, banyak pelaku usaha masih belum menyadari bahaya penyakit yang ditimbulkan dari lokasi penjualan daging ayam. Sebab, lokasi yang juga digunakan sebagai tempat pemotongan unggas cukup kotor. "Air yang dipakai belum tentu bersih," kata Satia.

    ADVERTISEMENT

    Idealnya, ujar Satia, daging ayam yang sehat dipotong di tempat pemotongan khusus unggas. Sedangkan di Kota Bekasi baru ada satu titik di Kecamatan Pondok Gede. “Milik swasta. Itu pun sudah tak difungsikan,” ucapnya.

    Rupanya, pengusaha daging ayam enggan memotong di sana. "Alasannya terlalu ribet, lebih baik dipotong di pasar," kata Satia. Padahal, ujar dia, rumah potong hewan unggas di Pondok Gede bisa menampung sebanyak 4.000 ekor.

    Menurut Satia, kualitas daging ayam cukup terjamin jika dipotong di rumah potong unggas. Di sana, kata dia, sudah ada standarnya sebelum daging ayam tersebut didistribusikan ke pasar atau ke konsumen. "Daging ayam sehat itu dikemas, kemudian disimpan di pendingin," katanya.

    Untuk mendorong pelaku usaha meningkatkan kualitasnya, ujar Satia, konsumen diminta kritis. Menurut dia, konsumen bisa memilih dan memilah daging ayam yang dibelinya. Selain itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk membangun rumah potong unggas.

    Kepala Subdirektorat Higien dan Pengawasan Direktorat Jenderal Peternakan Kementerian Pertanian Arif Wicaksono mengatakan untuk meningkatkan mutu dan kualitas daging ayam, pihaknya telah menerbitkan nomor kontrol veteriner (NKV).

    "Baru ratusan pelaku usaha yang mempunyai NKV di seluruh Indonesia," kata Arif. Dia meminta pelaku usaha daging ayam segera mengurus sertifikat, sehingga lembaganya bisa memberikan standardisasi pemotongan ayam sampai dengan pendistribusian daging kepada konsumen.

    Baca jugaWarga Terganggu Bau Rumah Potong Ayam Rawa Kepiting 

    Menurut Arif, daging sehat itu, sebelum ayam dipotong, harus diberi waktu istirahat minimal tiga jam untuk menghilangkan stres. Selain itu, ayam seharusnya diletakkan di kandang yang luas. Lalu, ayam dipotong dengan benar, yakni digantung agar darahnya hilang, dibersihkan, dikemas, dan diletakkan di pendingin.

    ADI WARSONO


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Klaim Landai Angka Kasus Harian Covid-19, Angka itu Mengelabui Kita

    Pemerintah klaim kasus harian Covid-19 mulai melandai. Lalu mengapa pendiri LaporCovid-19 mengatakan bahwa angka itu tak ada artinya?