Empat Polwan Bekasi Gagalkan Perampokan Minimarket  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi perampokan. shutterstock.com

    Ilustrasi perampokan. shutterstock.com

    TEMPO.COJakarta - Empat polisi wanita Kepolisian Resor Metro Bekasi Kota menggagalkan pencurian minimarket Indomaret di Jalan Ratna, Kelurahan Jatimekar, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, Ahad pagi, 20 Agustus 2017. Mereka adalah Kepala Unit Binmas Polsek Jatiasih Iptu Suliani, Bripda Maria Agata, Bripda Vero, dan Bripda Sirna.

    Juru bicara Kepolisian Resor Metro Bekasi Kota Komisaris Erna Ruswing Andari menuturkan peristiwa itu bermula ketika Iptu Suliani hendak ke kantor Polsubsektor Jatiasih pukul 04.50. Sesampai di pertigaan Jalan Ratna, Suliani melihat sebuah mobil Toyota Avanza diparkir di halaman Indomaret. "Mobil itu mencurigakan, karena membelakangi pintu Indomaret," kata Erna, Senin, 21 Agustus 2017.

    Baca:
    5 Pelaku Pencuri Minimarket Diamankan Polisi 
    Terekam CCTV, Aksi Pencurian Motor di Depan Minimarket 

    Suliani, kata Erna, melihat seseorang turun dari kiri, lalu menuju ke pintu Indomaret. Karena mencurigakan, Saulina menghubungi petugas piket reserse serta anak buahnya di Polsubsektor Jatiasih. "Tidak lama kemudian datang tiga polwan anggotanya."

    Empat polwan itu mengintip. Tampak seorang pencuri Indomaret keluar. Setelah memastikan orang itu pencuri, Saulina berteriak “maling dan rampok” sambil memberikan aba-aba tembakan peringatan. "Lalu datang lagi mobil tak dikenal ke lokasi," ucap Erna.

    Baca juga:
    Menuai Protes, Pembatasan Ganjil-Genap di Tol Batal Diuji...
    KKP Akan Kaji Proyek Jembatan Pulau Reklamasi C dan D 

    Panik, pencuri itu menyalakan mobilnya dan kabur. Keempat polisi wanita itu tidak ada yang berani menghadang karena takut ditabrak. Polisi kini sedang menyelidiki pencurian gagal itu. "Kami sedang mempelajari rekaman CCTV."

    ADI WARSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban Konflik Lahan Era SBY dan 4 Tahun Jokowi Versi KPA

    Konsorsium Pembaruan Agraria menyebutkan kasus konflik agraria dalam empat tahun era Jokowi jauh lebih banyak ketimbang sepuluh tahun era SBY.