Djarot Ingin Pasar Tradisional Terintegrasi dengan Rumah Susun

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pembeli berbelanja di Pasar Petojo Enclek di Jalan Suryo Pranoto Gg IX Kelurahan Petojo Selatan, Jakarta, Jumat 5 Februari 2016. Sementara enam pasar lainnya yang akan direvitalisasi antara lain, Pasar Walang Baru, Pasar Pelita, Pasar Bidadari, Pasar Gang Kancil dan Pasar Sumur Batu. TEMPO/Subekti.

    Pembeli berbelanja di Pasar Petojo Enclek di Jalan Suryo Pranoto Gg IX Kelurahan Petojo Selatan, Jakarta, Jumat 5 Februari 2016. Sementara enam pasar lainnya yang akan direvitalisasi antara lain, Pasar Walang Baru, Pasar Pelita, Pasar Bidadari, Pasar Gang Kancil dan Pasar Sumur Batu. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengatakan pemerintah memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan pasar tradisional. Tujuannya, agar pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bisa tetap hidup di Jakarta. Karena itu, kata Djarot, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menyiapkan berbagai strategi agar pedagang di pasar tradisional tetap berkembang.

    "Kalau bapak-ibu ingin ramai, makanya ke depan pasar ini harus terintegrasi, tergabung dengan beberapa aktivitas," ujar Djarot saat meresmikan Pasar Walang Baru, Koja, Jakarta Utara, Kamis, 24 Agustus 2017.

    Baca juga:
    Djarot Resmikan Pasar Walang Baru, Pedagang Minta Diskon Iuran

    Djarot menuturkan nantinya setiap pasar tradisional harus tergabung dengan rumah susun, apartemen, terminal, dan sarana olahraga. Selain itu, Djarot juga mendorong pasar agar dilengkapi dengan sarana hiburan, seperti karaoke keluarga atau pusat jajanan kuliner. Dengan begitu, calon pembeli akan berkunjung ke pasar.

    "Jadi pasar tradisional ini kami kejar terus sesuai dengan standar nasional. Maka fasilitas harus lengkap. Makanya saya lihat ada ruang ibu menyusui, toiletnya bersih, ada musola, ada mini puskesmas, pemadam kebakaran atau hydrant," ujar Djarot.

    Djarot menuturkan persaingan pedagang pasar denga pedagang online memang tidak bisa hindari. Untuk itu, inovasi dari pedagang juga diperlukan. Meski begitu, Djarot masih yakin pasar tradisional masih diminati lantaran kebiasaan masyarakat yang suka berkumpul.

    Menurut Djarot, sebagian besar pembeli pergi ke pasar tidak hanya sekedar untuk berbelanja, melainkan sekaligus rekreasi atau bersilaturahim. Apalagi, kata dia, seni berbelanja di pasar tradisional adalah adanya tawar menawar.

    Baca juga:
    Pasokan Beras di Pasar Induk Cipinang Jakarta Merosot Drastis

    "Mereka bisa berdialog satu sama lain. 'Kan kalau pasar online enggak ad kontak. Saya mah yakin kalau ini kita direvitalisasi pasar tradisional akan lebih menarik. Orang suatu ketika akan jenuh dengan pasar yang online," ujar Djarot.

    LARISSA HUDA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.