Ada Anak-anak dalam Demo Rohingya, KPAI: Itu Melanggar Hak Anak  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang anak perempuan memegang spanduk di depan barisan polisi di Kedutaan Besar Myanmar, Jakarta Pusat, 4 September 2017. Mereka mendesak pemerintah Indonesia, ASEAN dan PBB agar turun tangan menghentikan krisis kemanusiaan kaum muslim Rohingya di Rakhine. TEMPO/Ilham Fikri.

    Seorang anak perempuan memegang spanduk di depan barisan polisi di Kedutaan Besar Myanmar, Jakarta Pusat, 4 September 2017. Mereka mendesak pemerintah Indonesia, ASEAN dan PBB agar turun tangan menghentikan krisis kemanusiaan kaum muslim Rohingya di Rakhine. TEMPO/Ilham Fikri.

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Arist Merdeka Sirait menyayangkan dilibatkannya anak-anak dalam aksi demonstrasi Sahabat Muslim Rohingnya di depan Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta Pusat. "Etikanya tidak seperti itu," katanya saat dihubungi Tempo, Senin, 4 September 2017.

    Menurut Arist, dengan membawa anak-anak dalam kegiatan demo seperti itu, melanggar hak anak. "Itu dapat mengancam anak-anak karena itu kan situasi terbuka, lalu kita tidak tahu rasa keamanannya," ujarnya.

    Baca: Demo Rohingnya Bawa Anak-anak, Menurut Korlap Itu Edukasi

    Arist mengatakan jika alasan membawa anak ke lokasi aksi demonstrasi dikarenakan tidak ada yang menjaga anak, dia menyarankan lebih baik tidak ikut demo. "Anak-anak tidak boleh dilibatkan dalam keadaan yang dapat membuat mereka celaka," katanya menjelaskan.

    Dalam undang-undang perlindungan anak, kata Arist, anak tidak boleh dilibatkan dalam kegiatan politik, sekalipun kegiatan tersebut untuk menentang pelanggaran terhadap hak asasi manusia. "Dengan membawa anak demo, orang tua juga melanggar hak anak," tuturnya.

    Komunitas Sahabat Muslim Rohingnya merupakan perkumpulan ibu-ibu majelis taklim dari berbagai wilayah di Jakarta. Kelompok yang didominasi oleh wanita tersebut melakukan aksi protes atas nasib etnis Rohingnya di Rakhine State, Myanmar. Dalam aksi tersebut, mereka juga membawa anak-anak mereka yang berusia dua hingga lima tahun.

    Simak pula: Jihad ke Rohingya, FPI Perkirakan Biayanya Rp 20-30 Juta per Orang

    Firda Muthmainnah, salah satu orator Sahabat Muslim Rohingnya, mengatakan mereka datang dengan niat damai dan tidak anarkis, menurut dia, maka aksi mereka aman untuk anak-anak. "Polisi terlalu berlebihan sampai membawa kawat berduri, kami beretika dan tahu cara berunjuk rasa," tuturnya.

    Membawa anak saat berorasi, ujar Firda, merupakan bagian dari edukasi untuk anak-anaknya. Dia menuturkan, anak-anaknya menyukai terlibat dalam aksi yang dijalani oleh ibunya. "Kami tidak membawa senjata, kami hanya membawa gagasan, idealisme, dan semangat," katanya.

    CHITRA PARAMAESTI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.