Museum Fatahillah Akan Direvitalisasi Seperti Monas  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aneka jenis dagangan dijajakan para pedagang kaki lima yang leluasa membuka lapak mereka di sekitar halama Museum Fatahilah, di Kawasan Kota Tua Jakarta, Jumat (24/8). TEMPO/Subekti

    Aneka jenis dagangan dijajakan para pedagang kaki lima yang leluasa membuka lapak mereka di sekitar halama Museum Fatahilah, di Kawasan Kota Tua Jakarta, Jumat (24/8). TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Perdagangan Irwandi mengatakan pemerintah berencana merevitalisasi Museum Fatahillah seperti Monumen Nasional (Monas).

    Karena itu, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menertibkan pedagang kaki lima di museum yang berada di kawasan Kota Tua itu. "Jadi Museum Fatahillah di Kawasan Kota Tua akan kita buat seperti Monas,” ujarnya, Rabu, 6 September 2017.

    Irwandi menuturkan pedagang akan dipindahkan ke kompleks kaki lima di Jalan Cengkeh, Tamansari, Jakarta Barat. Pembangunan kompleks di lahan seluas 1,2 hektare tersebut hampir rampung. Dia menargetkan pedagang sudah menempati lokasi itu pada 20 September 2017. “Jadi bisa diresmikan 5 Oktober,” ucapnya.

    Rencana relokasi pedagang dari kawasan Kota Tua sebenarnya sudah diwacanakan sejak 2015. Pencetusnya adalah Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok. Namun pembangunan sarana dan prasarana kompleks kaki lima baru selesai akhir September 2017.

    Baca: Museum Taman Prasasti, Tempat Wisata Alternatif di Ibu Kota

    Museum yang bernama resmi Museum Sejarah Jakarta ini terletak di Jalan Taman Fatahillah Nomor 1, Jakarta Barat. Museum berdiri di atas lahan seluas 1.300 meter persegi. Dulunya, bangunan yang dijadikan museum itu adalah Balai Kota Batavia. Bangunan itu didirikan pada 1707-1712 atas perintah Gubernur Jendral Joan van Hoorn.

    Dari segi arsitektur, bangunan museum menyerupai Istana Dam di Amsterdam, yang terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat. Selain itu, terdapat bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang bawah tanah, yang berfungsi sebagai penjara. Setelah Indonesia merdeka, bangunan ini baru diresmikan sebagai museum pada 30 Maret 1974.

    DEWI NURITA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tarik Ulur Vaksin Nusantara Antara DPR dan BPOM

    Pada Rabu, 14 April 2020, sejumlah anggota DPR disuntik Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto