Hotel Hilton Ganti Nama Menjadi The Sultan

Rabu, 23 Agustus 2006 | 19:54 WIB
Hotel Hilton Ganti Nama Menjadi The Sultan
TEMPO Interaktif, Jakarta:Jakarta Hilton International Hotel secara resmi berubah nama menjadi The Sultan mulai Rabu (23/8). Pergantian nama tersebut menandai pemutusan kontrak hotel tersebut dengan jaringan Hilton International.

The Sultan kemudian dikelola oleh Singgasana Hotels dan Resorts, perusahaan pengembang dan properti Indonesia yang sudah berdiri sejak 2001.

General Manager The Sultan Jim Boyles mengatakan, dengan status yang ada sekarang, pihaknya akan memiliki kebebasan untuk lebih menonjolkan diri diantara grup-grup hotel internasional di Jakarta. Sesuai nama baru yang dipilih, pengelola The Sultan akan menerapkan konsep-konsep yang diadosi dari budaya Jawa. "Di seluruh aspek acara, perayaan, dan pelayanan," jelasnya dalam jumpa pers peresmian nama baru, di Jakarta, Rabu (23/8).

Chief Operating Officer Singgasana Nizar Sungkar menambahkan, pilihan berganti nama sekaligus berganti pengelola itu murni berdasarkan keinginan untuk mendapatkan kebebasan pengelolaan sendiri. "Pilihan kami sepenuhnya, terutama untuk mengembangkan budaya sendiri," ujarnya. Dia tidak bersedia menjelaskan batasan apa yang berlaku saat pengelolaan masih di bawah sistem lama.

Nizar tidak merinci alasan pemutusan kontrak. Dia membantah bahwa langkah tersebut terkait dengan kebijakan jaringan Hilton International. "Tidak ada hubungannya sama sekali, kami berhubungan baik," jawabnya saat ditanya bahwa pergantian itu akibat kemungkinan pihak jaringan Hilton International tidak bersedia masuk lagi ke Indonesia.

Dia menambahkan, sengketa tanah di lokasi hotel itu juga bukan menjadi pertimbangan pemutusan kontrak. Adapun mengenai kemungkinan lain penyebab yakni mahalnya biaya konsesi ke jaringan Hilton, dibantah juga oleh Nizar. "Ini bukan dari sisi penghematan atau biaya, tapi perbaikan ke depan," ujarnya.

Menurut Nizar, rencana awal pergantian status hotel itu sudah dirancang sejak dua tahun lalu. "Kami sudah menyerap ilmunya, pelaksanaannya sekarang," kata dia.
Sejak sepuluh tahun terakhir selama tiga puluh tahun di bawah jaringan Hilton International, kata Nizar, pihaknya praktis sudah melakukan pengelolaan sendiri. "Selama itu hanya franchaise saja," ujarnya.

Jakarta Hilton International Hotel dibangun pada tahun 1976. Hotel yang berlokasi di segitiga emas Jakarta tersebut memiliki jumlah total 1.104 kamar, sembilan ruang banguet dan satu ballroom, fasilitas oleh raga dan rekreasi, serta beragam fasilitas hotel lima lainnya.

Tingkat hunian hotel itu pada semester pertama tahun ini sebesar 35 persen dari total kamar atau setara dengan 400 kamar setiap harinya. Target satu semester ke depan, kata Nizar, tingkat hunian itu akan meningkat sebesar lima sampai sepuluh persen. Untuk itu, sekaligus seiring dengan pergantian nama, pengelola akan melakukan renovasi yang disesuaikan dengan budaya Jawa. "Karena kami berlokasi di Jawa," ujarnya.

Kebutuhan biaya renovasi akan disesuaikan dengan kebutuhan. Nizar mengatakan, alokasi dana awal renovasi yang sudah disiapkan saat ini sebesar Rp100-150 miliar.

Direktur Komunikasi dan Hubungan Masyarakat The Sultan Hotel Emeraldo Parengkuan optimistis bahwa pemasaran tidak akan terganggu oleh pergantian nama hotel. "Brand tidak menjadi pertimbangan utama pasar,"
ujarnya. Pemahaman tersebut, kata dia, berdasarkan hasil survei oleh insititusi independen dalam rangka pergantian nama. Yang menjadi pertimbangan pasar, Emeraldo mengutip hasil survei, adalah fasilitas, lokasi dan pelayanan.

Dua hotel di Surabaya dan Bali yang sebelumnya dikelola oleh Hilton International juga akan dikelola Singgasana Hotels dan Resorts. Dalam waktu dekat Bali Hilton International Hotel secara resmi akan berganti nama menjadi The Ayodya. Sedangkan Singgasana Hotel Surabaya sudah menggantikan nama Surabaya Hilton International Hotel sejak bulan lalu.

HARUN MAHBUB

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan