Soal Reklamasi di Jakarta, Ini Kata Anies Baswedan  

Kamis, 20 Oktober 2016 | 02:26 WIB
Soal Reklamasi di Jakarta, Ini Kata Anies Baswedan  
Calon Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, sebelum memasuki ruangan seminar pendidikan dan pelatihan nasional himpunan pengusaha muda Indonesia, di Jakarta, 15 Oktober 2016. TEMPO/Friski Riana

TEMPO.COJakarta - Salah satu calon gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, mengaku masih merasa enggan mengomentari isu reklamasi di Pantai Utara Jakarta. Dalam diskusi yang digelar Forum Diskusi Insan Cita Sejahtera Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam, Anies mengatakan masih ingin mendalami isu ini.

"Kami akan mengambil sikap sesudah selesai kajian dari Bappenas dan (Kementerian) Lingkungan Hidup," kata Anies saat ditemui di acara diskusi yang digelar di Flora Garden Café, Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu, 19 Oktober 2016.

Salah satu nelayan warga Muara Kamal, Jakarta Utara, menjadi salah satu peserta dalam diskusi itu. Ia memanfaatkan waktu itu untuk membeberkan kegelisahannya akan penggusuran dan bahaya reklamasi Pulau G kepada Anies.

"Saat ini kami kalau mau cari ikan harus memutar jauh. Kami juga dengar kabar kalau Kamal Muara mau digusur. Kami minta jangan sampai digusur Pak," katanya kepada Anies.

Menanggapi ini, Anies mengatakan itu cukup menjadi perhatian dia. Beberapa kali dia datang ke perkampungan nelayan di Jakarta Utara untuk mengetahui aspirasi dari masyarakat.

"Persoalan nelayan akan kami perhatikan. Kemarin saya baru saja bicara dengan warga Kampung Akuarium. Insya Allah nanti Sabtu atau Minggu kami akan ke sana lagi," ia berjanji.

Diskusi itu sendiri diakhiri dengan pembacaan deklarasi dukungan terhadap pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Selain ditandatangani beberapa alumnus HMI yang hadir, yakni angkatan 66, 74, 77-78, 98, deklarasi ini ditandatangani oleh elemen masyarakat yang datang. Mulai pengusaha, ulama, cendekiawan, BEM se-DKI, buruh, nelayan, korban penggusuran, RT/RW, dan aktivis pergerakan.

EGI ADYATAMA

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan