Ini Harapan Ahok di Sidang Kelima Kasus Penistaan Agama  

Selasa, 10 Januari 2017 | 04:21 WIB
Ini Harapan Ahok di Sidang Kelima Kasus Penistaan Agama  
Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menghadiri acara kumpul bersama alumni Trisakti angkatan 1980-1984 di kediaman Maryke Pulunggono, Kebayoran Baru, Jakarta, 6 Jumat 2017. TEMPO/Larissa

TEMPO.COJakarta - Terdakwa kasus penistaan agama, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, berharap teman-teman lamanya sewaktu ia belum menjadi Gubernur DKI Jakarta ikut hadir menemaninya menjalani sidang lanjutan pada Selasa, 10 Januari 2017.

"Saya berharap datang teman-teman lama sewaktu saya belum jadi Gubernur. Perjuangan saya sama Pak Djarot belum selesai buat Jakarta, nanggung ini. Makanya kami minta izin supaya kami terpilih menyelesaikannya," kata Ahok saat mengunjungi Pondok Pesantren Abdurrahman Wahid Soko Tunggal di Cipinang, Pulo Gadung, Jakarta Timur, Senin, 9 Januari 2017.

Baca: 
Pengacara Ahok: Kami Akan Hancurkan Kredibilitas Saksi 
Soal Fatwa MUI Penistaan Agama Ahok, Ini Komentar Gus Nuril

Dalam kunjungannya, Gubernur DKI Jakarta nonaktif tersebut meminta doa dan dukungan sebelum menjalani sidang lanjutan. Ia kembali menyampaikan permintaan maaf atas segala kegaduhan yang muncul.

"Saya minta doa karena, walau bagaimana, saya sudah di posisi terdakwa. Nasib saya tentu di tangan Tuhan, tapi lebih tentu di tangan hakim, jaksa penuntut umum, dan penasihat hukum. Saya harap ini bisa selesai," ujar Ahok.

Pada Selasa pekan lalu, sidang lanjutan digelar keempat kalinya dengan agenda pemeriksaan saksi dari jaksa penuntut umum (JPU). Adapun saksi yang hadir antara lain Habib Novel Chaidir Hasan, Gus Joy Setiawan, Muchsin alias Habib Muchsin Alatas, dan Syamsu Hilal.

Dalam pernyataannya seusai sidang, Ahok menyatakan empat saksi pelapor yang hadir dalam persidangan meminta dirinya ditahan. Adapun sidang lanjutan yang digelar hari ini juga memiliki agenda yang sama, yaitu pemeriksaan dua saksi pelapor tersisa dari JPU.

ANTARA

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan