Taruna STIP Tewas Dianiaya, Menhub Bentuk Tim Investigasi

Kamis, 12 Januari 2017 | 05:00 WIB
Taruna STIP Tewas Dianiaya, Menhub Bentuk Tim Investigasi
Jjie.org

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengucapkan turut berbelasungkawa atas meninggalnya Amirulloh Adityas Putra, 18 tahun, taruna Tingkat I Angkatan tahun 2016 Jurusan Nautika Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta. Amirulloh tewas setelah diduga dianiaya oleh empat orang seniornya.

Menteri Budi menyesalkan terjadinya tindak kekerasan di sekolah itu, hingga menewaskan seorang taruna. “Kemenhub telah berulang kali menyampaikan peringatan kepada para pengelola sekolah untuk melaksanakan standar prosedur pengawasan dan pencegahan terjadinya kekerasan di sekolah-sekolah di bawah pembinaan kami,” ujar Budi  dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo, Rabu, 11 Januari 2017.

Baca: Dianiaya Senior, Taruna Sekolah Pelayaran Meninggal 

Untuk menyekesaikan persoalan ini, Budi memerintahkan Kepala Badan Sumber Dana Manusia Kementerian Perhubungan Edward Marpaung, untuk membentuk tim investigasi internal. “Ini untuk menginvestigasi mengapa kasus itu sampai terjadi lagi,” kata Budi. Tim investigasi diketuai Edward Marpaung.

Amirulloh diketahui meninggal di dalam arsama pada Selasa, 10 Januari, sekitar pukul 22.30 WIB di dalam asrama. Korban dipukuli oleh empat terduga pelaku, yakni Sisko Mataheru (19), Willy Hasiholan (20), Iswanto (21), dan Akbar Ramadhan (19). Mereka memukuli korban berulang kali hingga Amirulloh tak sadarkan diri.

Baca juga: Taruna Tewas Dianiaya Senior, Menteri Perhubungan Pecat Ketua STIP

“Pelaku menganiaya korban dengan cara memukul perut, dada, dan ulu hati dengan tangan kosong,” kata Kepala Hubungan Masyarakat Kepolisian Resor Metro Jakarta Utara, Komisaris M. Sungkono, Rabu, 11 Januari 2017.

Sampai saat ini, polisi masih memeriksa pelaku dan sejumlah saksi. Kata Sungkono, ini bukan kali pertama penganiayaan di sekolah tersebut. Pada 2012 dan 2013 kejadian yang sama juga menewaskan siswa di sekolah itu.

GHOIDA RAHMAH

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan