Taruna STIP Tewas, Kembarannya Pernah Lihat Lebam di Perut

Kamis, 12 Januari 2017 | 06:00 WIB
Taruna STIP Tewas, Kembarannya Pernah Lihat Lebam di Perut
Amar, kembaran mendiang Amirullah Aditya Putra, berbincang dengan Menteri Perhubungan Budi Karya di rumah duka di Warakas, Jakarta Utara, 11 Januari 2017. TEMPO/Maria Fransisca

TEMPO.CO, Jakarta - Amirulloh Adityas Putra, 18 tahun, siswa tingkat satu Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran, Jakarta Utara, meninggal dunia setelah dianiaya empat seniornya di dalam asrama, Selasa malam, 10 Januari 2017. Kematian Amir meninggalkan duka mendalam pada saudara kembarnya, Amarulloh Adityas Putra.

Sebagai saudara kembar, Amir dan Amar, mempunyai hubungan sangat dekat. Sebelum Amir masuk STIP, mereka biasa berbagi, termasuk kamar. "Saya tidur di atas, Amir di kasur tambahan di bawah," kata Amar seraya memperlihatkan kamar dia di rumahnya di Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara, seusai pemakaman Amir.

BACA: Ini Kronologi Kematian Amirullah, Dihajar di Dada, Perut, dan Ulu Hati

Ini Firasat Kakek atas Kepergian Amirullah

Kepada Amar, Amir kerap curhat tentang keadaannya walaupun belum terang-terangan. Amar mengaku, pernah melihat lebam-lebam di tubuh kembarannya saat Amir pulang.

Amar pun menanyakan tentang lebam itu. Namun Amir menenangkan Amar yang juga sekolah pelayaran di tempat lain. "Tenang saja, sebentar lagi, kita akan berlayar," kata Amar mengulang ucapan Amir.

Amar menilai saudara kembarnya sebagai seorang yang pendiam, sopan, dan enggak neko-neko. "Dia terlalu respek sama senior," kata Amar. Mereka berkompetisi dalam mendapat ranking di sekolah. "Jadi kurang lebih sama ranking-nya."

Tentang hobi, Amir menyukai memancing dan basket. Amir pun telah memiliki teman wanita sejak 3 tahun lalu. "Mereka sudah berpacaran selama 3 tahun," kata Amar sambil menyalami pelayat yang ramai datang ke rumahnya, termasuk teman-teman saat di SMA 18 Warakas.

MARIA FRANSISCA

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan