Disebut 'Gubernur Tukang Gusur', Ini Jawaban Ahok  

Jum'at, 13 Januari 2017 | 03:22 WIB
Disebut 'Gubernur Tukang Gusur', Ini Jawaban Ahok  
Calon Gubernur DKI Jakarta Nomor urut 2 Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok saat menjawab pertanyaan wartawan di Rumah Lembang. TEMPO/Larissa Huda

TEMPO.CO, Jakarta - Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok tidak mau ambil pusing soal celotehan lawannya dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017. Salah satunya adalah celotehan calon gubernur nomor urut satu, Agus Harimurti Yudhoyono.

Dalam beberapa kali kesempatan berkampanye, Agus kedapatan beberapa kali mengimbau warga Jakarta untuk memilih dirinya sebagai gubernur. Agus meminta agar masyarakat tidak memilih sosok pemimpin tukang gusur. Julukan tukang gusur merujuk pada sosok Ahok.



Baca : Ahok Syaratkan Pemimpin Harus Punya Otak Dagang




Pasalnya, Ahok selama ini dikenal sudah beberapa kali menggusur rumah warga Jakarta yang dibangun menyalahi aturan. Seluruh warga Jakarta yang rumah dihancurkan diminta untuk pindah ke rumah susun sederhana sewa (rusunawa). Sebagian dari mereka menolak untuk dipindahkan dengan berbagai alasan.

"Itu 'kan kata lawan. Lu berasa enggak sih, gua gubernur yang ngurangin titik banjir dua per tiga (dari seluruhnya titik banjir yang ada)," kata Ahok di Kantor Kaskus, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis, 12 Januari 2017.



Baca : Jaksa Nilai Ahok sebagai Gubernur Wajar Peduli Umat Islam




Ahok menjelaskan Jakarta menjadi salah satu kota di Asia Tenggara yang selamat dari banjir akibat fenomena alam la nina. Ahok juga mengaku selama dua tahun belakangan, sebagian besar wilayah di Jakarta juga sudah tidak tergenang karena adanya normalisasi sungai sehingga harus memindahkan rumah masyarakat.

"Orang bilang gusur. Sekarang gua tanya, normalisasi sungai tanpa menghilangkan rumah-rumah yang menduduki trase sungai itu caranya bagaimana? Diapungin rumahnya?" ujar Ahok membalas celotehan Agus seraya terkekeh.


LARISSA HUDA

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan