Ludes Dilalap Api, Ahok Akan Bongkar Ulang Pasar Senen  

Jum'at, 20 Januari 2017 | 08:36 WIB
Ludes Dilalap Api, Ahok Akan Bongkar Ulang Pasar Senen  
Pasar Senen di Jakarta Pusat terbakar, selang bocor, hambat pemadaman. LARISSA HUDA

TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta non-aktif Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok mengatakan akan membangun ulang kios-kios di Pasar Senen pasca-kebakaran yang melanda blok 1 dan 2 pada Kamis dini hari tadi. Namun, Ahok menuturkan akan menerapkan regulasi baru ketika pasar tersebut selesai dibangun.

"Pasti harus dibangun ulang. Makanya saya sampaikan, kami ingin ada asas keadilan. Orang enggak boleh memiliki kios lebih dari dua, kecuali dia butuh, seperti toko emas atau apa," ujar Ahok di Hotel Santika, Jakarta Barat, Kamis,19 Januari 2017.

Baca: Kebakaran di Pasar Senen, Diduga Korsleting Listrik

Ahok mengatakan banyak pedagang yang menyalahi konsep pasar. Ia mengaku telah berulang kali menyampaikan tidak boleh ada seorang pedagang pun yang menumpuk stok barang di toko atau kios. Sebab, selama ini, masih banyak pedagang yang menggunakan kios sebagai gudang.

Nantinya, Ahok menuturkan akan melarang pemilik kios memiliki lima hingga sepuluh kios dalam suatu pasar. Pasalnya, dia menilai rata-rata pemilik kios menjadikan kios tersebut sebagai gudang untuk menyimpan stok barang dagangan karena ukuran kios yang tak mencukupi.

"Untuk ukurannya juga mesti yang pantas. Jangan terlalu kecil. Nah, kami mesti diskusi sama mereka (PD Pasar Jaya). Kalau soal keamanan, semua gedung sudah ada standar kok. Itu kan (Pasar Senen) bangunan lama," ujar Ahok.

Baca: Pasar Senen Terbakar, Ahok: Kami Tidak Bisa Toleransi Lagi

Kamis pagi tadi, ratusan kios di blok 1 dan 2 ludes dilalap api. Api diperkirakan muncul pertama kali pukul 04.10. Sekitar 56 unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan. Api sulit dipadamkan lantaran sebagian besar penghuni kios menjual bahan tekstil. Materi yang terbakar harus diurai perlahan agar tidak menimbulkan kebakaran susulan.

LARISSA HUDA

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan