Rel Cakung-Klender Patah, PT KAI Sebut Tak Ada Dampak Signifikan  

Senin, 20 Maret 2017 | 20:09 WIB
Rel Cakung-Klender Patah, PT KAI Sebut Tak Ada Dampak Signifikan   
Petugas PT KAI melakukan perbaikan patahnya jalur kereta api di antara Stasiun Cawang-Stasiun Tebet, Jakarta, 29 April 2016. Menurut Kepala Stasiun Cawang Jumadi, patahnya rel kereta diperkirakan karena umur rel yang sudah tua. TEMPO/Subekti

TEMPO.CO, Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) belum menjelaskan penyebab putusnya rel kereta antara Stasiun Cakung dan Stasiun Klender Baru, Jakarta Timur, pada Senin, 20 Maret 2017.

Manager Public Information Care PT KAI Suprapto menjelaskan, kejadian itu tidak berdampak signifikan pada perjalanan kereta api jarak pendek dan jarak jauh.

Baca juga: Rel Patah Cakung-Klender Baru, KCJ: Bukan Banyak Dilewati Kereta  

"Hanya ada sejumlah kereta yang tertahan beberapa menit," ujar Suprapto.

Dua kereta yang sempat terhambat itu adalah Jaka Tingkir 155 dan Taksaka. Selebihnya tidak ada gangguan berat yang berdampak pada penumpang.

Menurut Suprapto, hal ini karena pihaknya cepat dalam menangani masalah tersebut.

Insiden rel patah tersebut pertama kali dilaporkan PT KCJ melalui Twitter. “#InfoLintas KA (kereta api) mengalami keterlambatan perjalanan pasca-gangguan operasional rel patah pada pukul 03.40 WIB antara Stasiun Cakung dan Klender Baru.”

Simak juga: Underpass Stasiun Manggarai Dioperasikan, Ini Pendapat Penumpang

Hanya beberapa saat setelahnya, @CommuterLine mengabarkan bahwa jalur tersebut masih dapat dilalui kereta rela listrik, tapi hanya dengan kecepatan 5 kilometer per jam. PT KAI Commuter Jabodetabek pun menyampaikan permintaan maaf kepada para pengguna KRL di jalur tersebut.

“Pukul 06.10 WIB, gangguan operasional Cakung-Klender Baru sudah ditangani unit terkait, perjalanan dengan kecepatan normal di lokasi,” cuit akun Twitter resmi PT KCJ, @CommuterLine, Senin, 20 Maret 2017.

BENEDICTA ALVINTA | YOHANES PASKALIS



 




Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan