Menjelang Ramadan Jumlah Kebakaran Meningkat

Jum'at, 19 Mei 2017 | 21:35 WIB
Menjelang Ramadan Jumlah Kebakaran Meningkat
Kebakaran di Stasiun Klender, 19 Mei 2017. Foto: PT KCJ

TEMPO.CO, Jakarta - Kebakaran yang menghanguskan sepuluh ruangan di Stasiun Klender, Jakarta Timur, Jumat, 19 Mei 2017 pagi tadi, menambah panjang kebakaran besar yang terjadi pada bulan ini. Meski tak memakan korban jiwa, kebakaran ini menyebabkan lalu lintas kereta commuter line Jakarta - Bekasi dan sebaliknya, terganggu.

Kepala Seksi Operasional Pengendalian Kebakaran Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta Mulyanto, mengatakan jumlah kebakaran memang cenderung meningkat bila menjelang  Ramadan.

"Karena pertama penggunaan listrik meningkat, orang banyak masak, orang yang tak biasa masak menjadi memasak. Akhirnya listrik overload. Memang dari dulu menjelang lebaran atau Ramadan, memang selalu meningkat," kata Mulyanto saat dikonfirmasi Tempo, Jumat, 19 Mei 2017.



Baca: Stasiun Klender Kebakaran, KRL Bekasi-Manggarai Sudah Normal

Ramadan 2017 akan dimulai pada tanggal 27 Mei 2017. Pada bulan Mei hingga tanggal 19 ini saja, Dinas PKP mencatat ada 75 kebakaran yang terjadi. 52 kejadian di antaranya terjadi karena masalah listrik. Perumahan warga menjadi lokasi terbakar terbanyak dengan 21 kejadian.

Mei juga menjadi salah satu bulan terbanyak kebakaran yang memakan korban jiwa. Tercatat ada enam orang warga tewas. Empat di antaranya tewas dalam kebakaran di Cipinang Pulo, Jakarta Timur.

Mulyanto juga mengatakan upaya preventif sudah mulai dilakukan. Hari ini, Kadis PKP Subejo juga telah memberikan arahan kepada anggotanya untuk telibat aktif di masyarakat. Sikap waspada dari masyarakat juga menjadi faktor penting dalam mencegah kebakaran.



Baca: 26 Mobil Damkar Dikerahkan Padamkan Kebakaran di Pasar Minggu

"Kami juga sudah mulai sosialisasi kepada masyarakat agar lebih berhati-hati. Gunakan listrik seperlunya dan jangan lupa mematikan kompor dan alat lainnya jika tak digunakan," kata dia

Jika sudah terjadi kebakaran, Mulyanto mengatakan masyarakat bisa langsung menghubungi pemadam. Tak ada biaya yang dipungut sama sekali. "Akan lebih baik jika tiap rumah memiliki alat pemadam sendiri," kata dia.

EGI ADYATAMA

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan