Kapolda Metro Jaya Imbau Warga Tak Perlu Gelar Takbiran Keliling

Senin, 19 Juni 2017 | 22:36 WIB
Kapolda Metro Jaya Imbau Warga Tak Perlu Gelar Takbiran Keliling
Sejumlah warga berpawai keliling kota, dengan menumpang sebuah kendaraan. Seperti di Indonesia, sejumlah warga Filipina berpawai keliling kota pada saat malam takbiran. Cotabato, Philippines, 16 Juli 2015. Jeoffrey Maitem / Getty Images

TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Mochammad Iriawan mengimbau warga Jakarta agar tidak melaksanakan takbiran keliling, pada malam Idul Fitri pada Sabtu, 24 Juni 2017. Ia mengatakan takbiran lebih baik dilakukan di masjid sekitar rumah masing-masing.

"Kami mengimbau untuk saudara saudara kami yang mau takbir, lebih baik dilakukan di masjid. Kan lebih juga terkonsentrasi. Tidak usah takbir keliling," kata Iriawan saat ditemui di Lapangan Monumen Nasional, Senin, 19 Juni 2017.

Baca: Stop! Pawai Takbir Keliling Dilarang Masuk Kota Malang

Salah satu alasan Iriawan adalah terkait keamanan warga. Bila melaksanakan takbir keliling, Iriawan mengkhawatirkan adanya kecelakaan atau gesekan dengan pihak lain di jalan. Selain itu, takbir keliling juga dikhawatirkan mengganggu arus lalu lintas.

Ia pun mengatakan takbir keliling juga menghabiskan banyak energi dan bahan bakar. "Lebih baik buat beli ketupat pakai opor kan hehe," kata Kepala Divisi Propam Mabes Polri tersebut.

Surat imbauan ini dibuat pada Jumat, 16 Juni 2017 lalu. Langkah ini diambil setelah kepolisian melakukan analisa dan evaluasi terhadap kondisi di Jakarta menjelang Idul Fitri. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia.

Hari Raya Idul Fitri 2017 diperikirakan akan jatuh pada Ahad, 25 Februari 2017 mendatang. Kepolisian telah mulai melaksanakan operasi Ramadniya, untuk mengamankan arus mudik dan balik, serta mengamankan daerah di kota masing-masing.

EGI ADYATAMA

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan