Djarot Dukung Uji Coba Aspal Plastik untuk Jalan di Jakarta

Senin, 17 Juli 2017 | 15:02 WIB
Djarot Dukung Uji Coba Aspal Plastik untuk Jalan di Jakarta
Pasukan Orange Kelurahan Petojo memeras lembaran busa yang digunakan untuk mengepel aspal yang tergenang air banjir di sekitar kawasan Istana Kepresidenan, Jakarta, 29 Januari 2017. TEMPO/Subekti

TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mendukung rencana pemerintah pusat yang akan mencoba penggunaan campuran limbah plastik dengan aspal untuk pembuatan jalan. Proyek uji coba tersebut baru memasuki tahap uji coba dan akan dijalankan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).



"Itu sudah pernah dicoba di India. Hasilnya cukup bagus. Limbah plastik dipakai sebagai campuran hot mix (aspal)," ujar Djarot di Balai Kota Jakarta, Senin, 17 Juli 2017.


 




 


Menurut Djarot, penggunaan uji coba campuran limbah plastik tersebut bisa diterapkan di Jakarta. Apalagi, kata Djarot, jumlah limbah plastik di ibu kota sangat melimpah. Sisa pembakaran limbah plastik yang dilakukan di intermediate treatment (ITF) terhadap sampah plastik juga masih bisa digunakan.

"Sisa pembakarannya itu tetap bisa digunakan apakah untuk paving block atau untuk campuran bangunan jalan. Sehingga semua sampah warga kami manfaatkan betul," ujar Djarot. 


 




 


Sebelumnya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan melakukan pencampuran sampah plastik dengan aspal yang akan diaplikasikan di beberapa ruas jalan wilayah Bekasi. Proyek percontohan tersebut dimaksudkan untuk mengatasi masalah penumpukan plastik di Indonesia.

Di India, proyek tersebut sudah pernah dijalankan dengan pembangunan 120 ribu kilometer pembangunan jalan. Setidaknya ada tiga keuntungan apabila proyek tersebut bisa dijalankan di Indonesia, yaitu pembiayaan pembangunan yang berkurang hingga tujuh persen, biaya perawatan berkurang karena dinilai lebih kuat, terakhir bisa mengurangi limbah plastik.

LARISSA HUDA


 



 

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan