Minggu, 20 Agustus 2017

Patung Banteng Wulung di Gedung BEI Jadi Ikon Baru Pariwisata DKI

Minggu, 13 Agustus 2017 | 11:54 WIB
Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution foto bersama di patung ikon pasar modal Banteng Wulung yang di halaman gedung BEI, Jakarta Selatan, Ahad, 13 Agustus 2017. Tempo/Destrianita

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution foto bersama di patung ikon pasar modal Banteng Wulung yang di halaman gedung BEI, Jakarta Selatan, Ahad, 13 Agustus 2017. Tempo/Destrianita.

TEMPO.CO, Jakarta - Patung Banteng Wulung yang terpasang di halaman Bursa Efek Indonesia (BEI) tak hanya menjadi ikon baru pasar modal Indonesia, tapi juga menjadi ikon baru pariwisata Jakarta.  Direktur Utama BEI Tito Sulistio mengatakan, patung seberat tujuh ton tersebut diharapkan tidak hanya menjadi ikon dari BEI, namun juga menjadi tempat wisata baru di DKI di bidang finansial.

Tito mengatakan wisatawan bisa datang ke BEI dan berselfie ria di depan patung yang terbuat dari kayu fosil berusia  2,5 juta tahun itu. “Ini juga bagian dri kebudayaan, dan diharapkan ini menjadi ikon pariwisata DKI lainnya,” kata Tito Sulistio di Gedung BEI, Minggu, 13 Juli 2017.

Baca juga: Patung Banteng Wulung, Ikon Baru Bursa Efek Indonesia

Patung Banteng Wuluing diresmikan sebagai ikon baru Pasar Modal Indonesia, bersamaan dengan HUT BEI ke 40. Menurut Tito, dalam dunia pasar modal selalu akrab dengan dua jenis hewan, yakni banteng dalam Bahasa Inggris bull, yang menggambarkan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG sedang mengalami tren menguat atau bullish. Serta beruang dalam bahasa inggris bear, yang menggambarkan IHSG dan pasar sedang berada dalam tren menurun atau bearrish.

“Jadi di seluruh dunia lambang dari bursa diharapkan bullish terus, bull. Di bursa Amerika ada namanya Charging Bull terbuat dari perunggu. Di Cina dari perunggu, ada juga yang dari batu, semuanya banteng,” ucap Tito.


Adapun kata dia, patung banteng tersebut dinamakan Banteng Wulung, yang diambil dari sejarah kerajaan pasundan Banten, yang berwarna hitam, gesit dalam bergerak, berlari kencang dalam menjaga negara dan memberikan kesejahteraan.

Patung tersebut dibuat dari kayu yang sudah menjadi fosil berumur 2,5 juta tahun lalu, dan dipahat di Bali oleh seniman Made Budiasa. “Ini ditemukannya di Banten, 30 meter di bawah tanah. Jadi benar-benar asli Indonesia. Kayunya, pemahatnya, dan bantengnya,” kata Tito.

Banteng Wulung hari ini diresmikan menjadi ikon baru Pasar Modal Indonesia. Pejabat pemerintah di lingkungan kementerian turut menyaksikan peresmiannya, yakni Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Selain itu peresmian juga dihadiri oleh jajaran Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Direksi BEI serta self regulatory organization (SRO).

Menurut Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, patung banteng serupa juga telah dimiliki oleh bursa-bursa dunia sebagai ikon tren pasar bullish, antara lain di New York, Amsterdam, Frankfurt, Bulgaria, Shanghai, Shenzhen, Korea, dan Mumbai. “Peresmian Banteng Wulung ini merupakan icon tersendiri yang menjadi kebanggaan segenap pelaku pasar modal Indonesia hingga puluhan dekade mendatang,” kata Wimboh.

DESTRIANITA


Grafis

Cara Salat di Negara Luar Angkasa Asgardia

Cara Salat di Negara Luar Angkasa Asgardia

Warga muslim di Asgardia tetap dapat melaksanakan ibadah salat di luar angkasa, bagaimana tata cara yang dianjurkan?