Pendaftar Sekolah Keluhkan Standar Nilai Tak Diumumkan  

Reporter

Editor

Kamis, 1 Juli 2010 12:20 WIB

TEMPO/Aditya Herlambang Putra

TEMPO Interaktif, Jakarta - Orang tua yang ingin mendaftarakan anaknya ke Sekolah Menengah Atas (SMA) mengeluhkan cara pendaftaran sistem daring (online) yang diterapkan oleh pemerintah. Menurut Ian, 37 tahun, Warga Jalan Bendungan Melayu RT 04/RW 01 Kelurahan Tugu Selatan Jakarta Utara, dalam sistem online orang tua tidak mengetahui berapa pasing grade (standar nilai) yang diterapkan oleh SMU.

"Passing grade sebenarnya sudah dicantumkan, tapi itu yang tahun lalu. Kita tidak tahu passing grade-nya naik atau tidak tahun ini. Andaikan kita tahu berapa passing grade itu orang tua bisa lebih hati-hati dalam memilih sekolah," ujar Ian ketika ditemui di SMUN 72, Kodamar, Jakarta Utara.

Ian menambahkan, saat mendaftar calon siswa diwajibkan memilih lima sekolah. Sementara, ia tidak tahu berapa pasing grade sekolah yang akan dituju. Sehingga ia berjudi dengan pilihan sekolah untuk anaknya Andriyan yang memiliki nilai rata-rata pas-pasan.

"Saya tidak tahu SMU yang dipilih pertama ini tinggi atau tidak passing grade-nya. Kalau ternyata lebih tinggi, gugur pilihan yang dibawahnya. Terpaksa nanti daftar ulang lagi," keluhnya.

Ian menyarankan sebaiknya SMU di Jakarta, menentukan passing grade-nya masing-masing. Dengan begitu orang tua tahu anaknya akan memilih sekolah yang mana. "Waktu saya tanya berapa passing grade di sekolah ini (SMU 72) gurunya tidak tahu. Kalau bisa sih gunakan sistem seperti masuk perguruan tinggi. Passing grade-nya terpampang jelas," ujarnya.

Advertising
Advertising

Hal senada juga dikeluhkan Demas, 29 tahun, warga Jalan Prihatin RT 07/RW 02 Kelurahan Kelapa Gading Barat. Menurutnya alangkah baik jika orang tua mengetahui passing grade sekolah yang akan dituju. Dengan begitu orang tua yang anaknya mempunyai nilai pas-pasan bisa punya strategi matang dalam memilih sekolah.

"Baiknya memang orang tua tahu passing grade. Tapi inilah kompetisi. Yang nilainya tinggi yang bisa masuk sekolah unggulan," ujar Demas kepada Tempo usai mendaftarkan adiknya.

Dalam memilih sekolah, Demas menambahkan orang tua sebenarnya tidak terlalu peduli apakah SMU anaknya itu favorit atau tidak. Pertimbangan utama adalah sekolah itu dekat dengan tempat tinggal.

"Kasihan anaknya kalau sekolahnya jauh. Tapi, kalau ada SMU favorit dekat rumah kenapa tidak masukkan ke situ saja," ujarya.

Pantauan Tempo di SMU 72, cukup banyak orang tua yang mendaftarkan anaknya ke SMU 72. Rata-rata mereka memilih SMU 72 karena dekat dengan rumah. Pendaftaran sendiri dibuka pada pukul 08.00 dan ditutup pada pukul 15.00. Sampai saat ini pihak sekolah belum tahu berapa jumlah siswa yang mendaftar ke SMU 72. "Nanti jam 3 sore pas ditutup loket pendaftarannya baru ketahuan berapa yang daftar ke sini," ujar petugas pendaftaran yang enggan menyebutkan namanya.

DANANG WIBOWO

Berita terkait

Komnas Anak: Kuesioner Kelamin Langgar Privasi

9 September 2013

Komnas Anak: Kuesioner Kelamin Langgar Privasi

Dia mempertanyakan manfaat survei berisi grafik ukuran kelamin laki-laki dan perempuan itu.

Baca Selengkapnya

Kuesioner Bagian dari Periksa Kesehatan Reproduksi  

7 September 2013

Kuesioner Bagian dari Periksa Kesehatan Reproduksi  

Kuesioner gambar alat kelamin menjadi bagian pemeriksaan kesehatan untuk siswa SMP dan SMA terkait kesehatan reproduksi. Uji coba berlanjut tahun ini.

Baca Selengkapnya

Kemenkes: Kuesioner Gambar Alat Vital Program UKS

7 September 2013

Kemenkes: Kuesioner Gambar Alat Vital Program UKS

Kuesioner yang memuat alat vital program UKS kerja sama empat kementerian.

Baca Selengkapnya

Kuesioner Ukuran Kelamin Siswa Ditarik di Sabang

6 September 2013

Kuesioner Ukuran Kelamin Siswa Ditarik di Sabang

Kuesioner bergambar kelamin yang sempat beredar di SMP Negeri 1 Sabang telah ditarik oleh pihak puskesmas dan Dinas Kesehatan Kota Sabang.

Baca Selengkapnya

Kuesioner Ukur Alat Kelamin Siswa Salah Kaprah  

6 September 2013

Kuesioner Ukur Alat Kelamin Siswa Salah Kaprah  

Perbedaan interpretasi timbul lantaran kurangnya pemahaman dinas kesehatan di beberapa daerah tentang kesehatan reproduksi.

Baca Selengkapnya

KPAI Minta Kuisioner Ukur Kelamin Siswa Ditarik  

6 September 2013

KPAI Minta Kuisioner Ukur Kelamin Siswa Ditarik  

Gambar, foto, atau sketsa organ kelamin tanpa penjelasan memadai dianggap bisa mengarah kepada pornografi.

Baca Selengkapnya

Kuisioner Kelamin di Aceh Disorot Media Asing

6 September 2013

Kuisioner Kelamin di Aceh Disorot Media Asing

AFP, Straitstimes Singapura, The Standar Hong Kong menulis soal kuisioner yang mencantumkan gambar alat kelamin.

Baca Selengkapnya

Kuisioner Gambar Kelamin di Aceh Sesuai Program

5 September 2013

Kuisioner Gambar Kelamin di Aceh Sesuai Program

Seharusnya kuesioner gambar kelamin tidak dibagi dan tidak boleh dibawa pulang karena bersifat rahasia.

Baca Selengkapnya

Ukur Kelamin Siswa, Sekolah Tuding Dinas Kesehatan  

5 September 2013

Ukur Kelamin Siswa, Sekolah Tuding Dinas Kesehatan  

SMP Negeri 1 Sabang merasa tercoreng dan kecewa dengan pihak dinas kesehatan. 'Lembaran itu dibagikan oleh petugas puskesmas dan dinas kesehatan.'

Baca Selengkapnya

Data Ukuran Kelamin Siswa Akan Direkap Dinkes

4 September 2013

Data Ukuran Kelamin Siswa Akan Direkap Dinkes

Dinas Kesehatan Kota Sabang mengatakan data tersebut digunakan untuk mengetahui kondisi kesehatan reproduksi remaja di Kota Sabang.

Baca Selengkapnya