Selasa, 13 November 2018

Warga Bambu Apus Keluhkan Banjir Imbas Jalan Tol Serpong-Cinere

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pekerja menyelesaikan pengerjaan proyek pembangunan jalan tol Serpong-Cinere di kawasan Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Senin, 3 September 2018. Jalan tol Serpong-Cinere sepanjang 10,14 Kilometer ini nantinya tersambung dengan jalan tol Kunciran-Bandara Soekarno-Hatta, yang juga sedang proses pengerjaan, yang diharapkan mampu memecahkan penumpukan serta kemacetan di jalan tol dalam kota dan JOR. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal

    Sejumlah pekerja menyelesaikan pengerjaan proyek pembangunan jalan tol Serpong-Cinere di kawasan Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Senin, 3 September 2018. Jalan tol Serpong-Cinere sepanjang 10,14 Kilometer ini nantinya tersambung dengan jalan tol Kunciran-Bandara Soekarno-Hatta, yang juga sedang proses pengerjaan, yang diharapkan mampu memecahkan penumpukan serta kemacetan di jalan tol dalam kota dan JOR. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal

    TEMPO.CO, Tangerang Selatan -Warga komplek Bambu Apus Jalan Oscar 2 Rt 01 Rw 02, Kelurahan Bambu Apus, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan mengeluhkan banjir akibat adanya proyek pembangunan jalan tol Serpong Cinere.

    Pasalnya, dampak pembangunan tol tersebut menimbulkan banjir dan jalan becek disertai tanah merah saat hujan turun. "Tadinya ada 20 kepala keluarga. Setelah diukur-ukur ada lima rumah dan satu masjid yang tidak terkena pembebasan," kata salah seorang warga, Harun Sohar, 56 tahun, Rabu, 7 November 2018.

    Baca : Jalan KH. Noer Ali di Bekasi Putus Karena Banjir

    Menurut Harun, banjir terjadi mulai bulan Oktober lalu. Sebelumnya komplek yang ditinggalinya dari tahun 1990 ini tidak pernah banjir. Adapun saat musim kering, banyak debu dari pembangunan tol sangat tebal.

    "Tinggal disini dari tahun 1990 sebelum ada proyek tol disini nggak pernah banjir. Tapi setelah ada proyek tol jadi banjir kurang lebih setinggi sampai satu meter. Banjirnya sampai satu jam," Harun menambahkan.

    Harun juga mengatakan dia pernah mengadu ke kelurahan soal imbas pembangunan tol itu. Tapi dari pihak kelurahan mengatakan tidak bisa apa-apa.

    "Lurahnya sendiri yang bilang kalau dia tidak bisa berbuat apa- apa, dia bilang kalau soal tol ya ngadunya ke pihak tol, padahal kita maunya di mediasi dengan pihak tol agar dibebaskan juga lahannya," ungkapnya.

    Dengan pembangunan tol Serpong- Cinere ini, lanjut Harun ia belum pernah di janjikan kompensasi kebisingan dan belum menerima kompensasi kebisingan.

    Simak pula :
    Cerita Panggilan Mesra Anggota DPRD Bangka Belitung Korban Lion Air ke Istrinya

    "Ya harapannya di bebaskan juga, soalnya kalau lagi alat berat lewat pasti ada goncangan dan berisik juga, saat ini belum ada janji kapan di bangunkan akses jalan keluar komplek karena jalan yang sekatang hanya cor sementaradan kalau hujan tertutup tanah merah," imbuhnya.

    Harun menuturkan, yang kasihan anak- anak kecil karena tidak bisa bermain di lingkungan rumah karena sudah tidak ada fasilitasnya. "Kalau mereka mau main ya susah. Ada pembangunan proyek jalan tol. Jika siang berdebu, dan kalau ada hujan deras terjadi banjir dan becek," ujar dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?