Dokter Kewalahan Layani 50 Korban Longsor Sukajaya

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga korban bencana banjir bandang dan tanah longsor beraktivitas di posko pengungsian korban banjir bandang dan tanah longsor di SDN Sukajaya 03, Harkat Jaya, Sukajaya, Bogor, Jawa Barat, Jumat, 10 Januari 2020. Kementerian Sosial mencatat hingga 9 Januari 2020, sebanyak 19.801 orang masih mengungsi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Banten terkait bencana banjir dan tanah longsor. ANTARA

    Warga korban bencana banjir bandang dan tanah longsor beraktivitas di posko pengungsian korban banjir bandang dan tanah longsor di SDN Sukajaya 03, Harkat Jaya, Sukajaya, Bogor, Jawa Barat, Jumat, 10 Januari 2020. Kementerian Sosial mencatat hingga 9 Januari 2020, sebanyak 19.801 orang masih mengungsi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Banten terkait bencana banjir dan tanah longsor. ANTARA

    TEMPO.CO, Bogor - Warga korban longsor di Kampung Cileksa, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor mulai terserang penyakit. Dalam sehari tidak kurang 50 orang mendatangi pos kesehatan, mulai dari anak-anak hingga dewasa.

    Membludaknya korban longsor yang membutuhkan pelayanan tidak diimbangi dengan jumlah tim medis, khususnya dokter. Di posko Cileksa hanya ada satu dokter yang harus melayani puluhan warga. Ditambah lagi dengan korban yang mestinya dirujuk ke rumah sakit namun terpaksa menetap karena akses jalan belum pulih.

    "Saya hanya sendiri di sini. Dibantu sama satu orang tenaga medis kecamatan," ucap Solichin, dokter jaga di posko kesehatan Cileksa, Jumat malam, 17 Januari 2020. Solichin merupakan relawan dokter berasal dari Universitas 11 Maret, Solo.

    Ia mengatakan rata-rata pasien yang ditanganinya terjangkit penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), yang disebabkan oleh sirklus udara yang yang terkontaminasi dengan debu. Solichin menyebut penyakit ISPA sangat cepat menular sehingga banyak korban longsor yang tertular.

    "ISPA itu bahaya kalau tidak ditangani langsung. Dia bisa merambat ke paru-paru lalu ke jantung dan bisa mengganggu pompa darah di jantung dan kemudian bisa menewaskan pasien," kata Solichin.

    Selain ISPA, korban longsor di Cileksa juga banyak mengalami gangguan pencernaan dan maag akut. Hal itu disebabkan karena makanan yang dikonsumsi pengungsi tidak banyak variannya. Menurut Solichin, pasien yang ditangani mengalami keluhan di perut, yakni rata-rata terkena infeksi lambung dan saluran pencernaanya.

    Solichin menyebut hal itu wajar terjadi karena korban longsor atau pasien hanya makan, seperti mie instan dan ikan kaleng. "Belum lagi kondisi mereka di pengungsian. Mereka tidur, masak, dan makan disitu. Itu sangat rentan terserang penyakit," ucapnya.

    Solichin mengatakan saat ini jumlah pasien terbilang menurun dibandingkan pada masa awal evakuasi. Sebab tim relawan telah melakukan penyuluhan dan antisipasi. Meski demikian, ia berharap tenaga medis di lokasi pengungsian bisa ditambah. "Karena saya kewalahan juga kalau sendiri," kata Solichin.

    M.A MURTADHO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Wuhan Menjangkiti Kapal Pesiar Diamond Princess

    Jumlah orang yang terinfeksi virus korona Wuhan sampai Minggu, 16 Februari 2020 mencapai 71.226 orang. Termasuk di kapal pesiar Diamond Princess.