Bantah Sekap Pembantu, Brigjen Mangisi Suka Traktir Roti

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga melintas di depan rumah Brigjend Purnawirawan MS yang menjadi lokasi penyekapan Pembantu Rumah Tangga (PRT) di Komplek Duta pakuan, Kelurahan Tegallega, Kota Bogor, Jabar (21/2). Kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan 17 orang PRT oleh istri perwira tinggi polisi tersebut sedang diusut dan diselidiki oleh pihak berwajib. ANTARA/Jafkhair

    Warga melintas di depan rumah Brigjend Purnawirawan MS yang menjadi lokasi penyekapan Pembantu Rumah Tangga (PRT) di Komplek Duta pakuan, Kelurahan Tegallega, Kota Bogor, Jabar (21/2). Kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan 17 orang PRT oleh istri perwira tinggi polisi tersebut sedang diusut dan diselidiki oleh pihak berwajib. ANTARA/Jafkhair

    TEMPO.CO, Jakarta - Brigadir Jenderal (Purnawirawan) Mangisi Situmorang kukuh membantah bahwa istrinya, Mutiara, telah menyekap dan menganiaya belasan pembantu yang bekerja di rumahnya di kawasan Jalan Danau Matana, Blok C5 Nomor 18, RT 08 RW 03, perumahan Duta Pakuan, Kelurahan Tegallega, Bogor Tengah. Sebaliknya, Mangisi mengklaim istrinya sudah memperlakukan para pekerja itu dengan sangat manusiawi.(baca: Alasan Brigjen Mangisi Punya 16 Pembantu)

    “Saya anggap istri saya sudah melebihkan kasih sayangnya kepada para pekerja,” kata Mangisi saat bertemu dengan banyak wartawan di Bogor, Sabtu, 22 Februari 2014. Karena itu, Mangisi tetap berkukuh tidak melakukan penyekapan.

    Selain membagi rata tugas bagi belasan pembantunya, mantan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Polri ini juga menyatakan memberi mereka makan dan tempat tinggal yang layak. "Mereka makan nasi setiap harinya tiga kali. Itu belum tambahan roti di pagi hari."

    Setiap pagi, kata Mangisi, bila ada pedagang roti lewat di depan rumahnya, para pembantunya diperbolehkan mengambil roti. Setelah menganggap roti yang diambil cukup, mereka kemudian masuk ke rumah dan pedagang roti akan meminta pembayaran dari Mangisi atau istrinya. (baca: 17 Pembantu Istri Jenderal Dibawa ke Rumah Aman)

    “Jadi pedagang datang dan menagih ke kami.” kata Mangisi. Dia menyatakan mengeluarkan Rp 150-250 ribu per hari untuk traktiran roti itu. "Setelah makan roti, siangnya tetap makan nasi dan tetap tiga kali meskipun sudah makan roti," ujarnya.

    Sore hari, kata Mangisi lagi, para pembantunya berbondong-bondong memanggil tukang bakso."Selesai makan bakso, saya ditagih lagi Rp 180 ribu, Rp 200 ribu," ujarnya.

    Kasus penganiayaan di rumah Brigadir Jenderal (Purnawirawan) Mangisi ini mendapat sorotan ketika salah satu pembantunya, Yuliana Lewer, melaporkan Mutiara, istri Mangisi, ke polisi. Saat bekerja di rumah Mangisi, Yuliana mengaku tidak digaji selama tiga bulan. Dia pun akhirnya memilih kabur dari rumah majikannya.(baca: Pengakuan PRT Istri Jenderal: Dicakar dan Tak Diberi Gaji)

    Ketika kabur itulah Yuliana ditemukan oleh sejumlah orang. Dia meminta dijemput keluarganya. Setelah dijemput, Yuliana melaporkan kasus ini ke Polres Bogor.(baca: Kasus Penganiayaan oleh Istri Jenderal, 12 Saksi Diperiksa  )

    AW | SIDIK PERMANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.