Sajak Tukang Gusur Fadli Zon di Pengumuman Anies-Sandiaga

Jum'at, 23 September 2016 | 22:26 WIB
Sajak Tukang Gusur Fadli Zon di Pengumuman Anies-Sandiaga
Calon Gubernur DKI dan wakil gubernur diusung Gerindra-PKS pada Pilkada DKI 2017 Anies Baswedan dan Sandiaga Uno didampingi istri foto bersama usai acara pendeklarasian di rumah Prabowo Subianto, Kebayoran Baru, Jakarta, 23 September 2016. Tempo/ Aditia Noviansyah

TEMPO.CO, Jakarta - Rangkaian acara pengumuman calon dari poros Kertanegara berlangsung pada Jumat malam, 23 September 2016. Menjelang akhir acara, ada sesi pembacaan puisi yang dibacakan Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon.

"Saya bertugas membaca puisi untuk tukang gusur," kata Fadli di awal pembacaan sajaknya. Sajak itu diberi judul Sajak Tukang Gusur. Selama pembacaan pun, saat Fadli menyebut tukang gusur, sejumlah orang berteriak nama Ahok.

Berikut adalah Sajak Tukang Gusur yang dibacakan Fadli Zon:



Sajak Tukang Gusur

Tukang gusur, tukang gusur
Menggusur orang-orang miskin
Di kampung-kampung hunian puluhan tahun, di pinggir bantaran Kali Ciliwung.

Di rumah-rumah nelayan Jakarta
Di dekat apartemen mewah dan mal yang gagah
Semua digusur, sampai hancur.

Tukang gusur, tukang gusur
Melebur orang-orang miskin
Melumat mimpi-mimpi masa depan
Membunuh cita-cita dan harapan
Anak-anak kehilangan sekolah, bapak-bapaknya dipaksa menganggur
Ibu-ibu kehabisan air mata

Tukang gusur, menebar ketakutan di Ibu Kota
Gayanya pongah bagai penjajah Caci maki kanan kiri
Mulutnya srigala penguasa
Segala kotoran muntah
Kawan-kawannya konglomerat
Centengnya oknum aparat
Menteror kehidupan rakyak

Ibu Kota katanya semakin indah Orang-orang miskin digusur, pindah

Gedung-gedung semakin cantik  menjulang
Orang miskin digusur pula.

Tukang gusur, tukang gusur
Sampai kapan kau duduk disana
Menindas kaum dhuafa

Tukang gusur, tukang gusur
Suatu masa kau menerima karma pasti digusur oleh rakyat Jakarta

AMIRULLAH

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan