Mengenal Bongsang, Keranjang Khas dari Betawi

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung sedang menenteng Bongsang, atau keranjang khas betawi, di Festival Bongsang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Ahad, 25 Maret 2018. TEMPO/Andita Rahma

    Pengunjung sedang menenteng Bongsang, atau keranjang khas betawi, di Festival Bongsang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Ahad, 25 Maret 2018. TEMPO/Andita Rahma

    TEMPO.CO, Jakarta - Festival Bongsang yang digelar di sepanjang Jalan Raya Ragunan mempunyai misi khusus, yakni melestarikan penggunaan bongsang, keranjang khas Betawi. Keranjang dari anyaman bambu yang ramah lingkungan ini diperkenalkan kembali sebagai tempat barang belanjaan.

    "Jadi, bongsang itu alat keranjang pembungkus buah, lauk, yang pada waktu dulu digunakan saat mengunjungi kyai," kata Camat Pasar Minggu Agus Irwanto di Jalan Raya Ragunan, Ahad, 25 Maret 2018.

    Agus menuturkan panitia menyediakan 30 sampai 50 bongsang gratis di setiap kios."Kalau habis, kami tambah lagi," ujar dia.

    Baca: Pemkot Jakarta Selatan Gelar Festival Bongsang di Pasar Minggu

    Selain itu, menurut Agus, keranjang bongsang ini ramah lingkungan. "Warga datang, belanja pakai bongsang, mereka otomatis sudah berkontribusi mengurangi penggunaan kantong plastik," kata dia.

    Apalagi, bongsang bisa digunakan berkali-kali. Berbahan dasar dari bambu, keranjang tersebut cukup awet dan tidak mudah kotor.

    Seorang pengunjung Festival Bongsang, Eneng, terlihat sedang menenteng bongsang. "Iya nih saya habis belanja buah terus bawanya pakai bongsang. Unik sih," ucap Eneng. Ia mengaku baru pertama kalinya menggunakan bongsang. 

    Festival Bongsang ini berlangsung selama dua hari sejak Sabtu pagi sampai hari ini, Ahad, 25 Maret 2018 pukul 23.00 WIB.  Namun, festival ini hanya bisa dinikmati dengan berjalan kaki saja. Jika warga membawa kendaraan, bisa memarkirkan mobil atau motornya di sekitar lokasi. Selain itu, untuk festival kebudayaan Betawi ini tidak dipungut biaya alias gratis. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.