Cuaca Jakarta Cerah, Warga Berjemur: Langit Biru

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang warga tampak terlihat berjemur, di Jalan protokol HR. Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu, 1 April 2020. Dinas Kesehatan DKI Jakarta menyatakan dari 18.077 orang di Jakarta yang telah menjalani tes kilat (Rapid Test), sebanyak 299 orang dinyatakan positif terinfeksi virus corona.  TEMPO/Imam Sukamto

    Seorang warga tampak terlihat berjemur, di Jalan protokol HR. Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu, 1 April 2020. Dinas Kesehatan DKI Jakarta menyatakan dari 18.077 orang di Jakarta yang telah menjalani tes kilat (Rapid Test), sebanyak 299 orang dinyatakan positif terinfeksi virus corona. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebagian warga di Gang Kelinci, Jakarta Pusat memanfaatkan cuaca Jakarta yang cerah untuk berjemur setiap pagi agar kekebalan tubuh meningkat dalam menangkal virus Corona. 

    "Bagus dan cerah langitnya dan berwarna biru, tapi enggak setiap hari juga, kadang mendung," kata Harto, salah seorang penghuni di Gang Kelinci di Jakarta, Kamis 2 April 2020.

    Kasubid Analisis Informasi Iklim BMKG Pusat, Adi Ripaldi mengatakan kualitas udara DKI Jakarta selama COVID-19 membaik karena tidak banyak mobilitas kendaraan, mengurangi polusi udara.

    "Langit biru bersih karena polusi udara sudah dicuci oleh air hujan, sehingga pada saat cuaca cerah akan terlihat biru," kata Ripaldi saat dikonfirmasi ANTARA di Jakarta.

    Ripaldi juga menyebutkan, langit biru Jakarta juga sebagai refleksi dari kondisi laut yang juga biru.

    "Mungkin laut kita jadi bersih juga karena aktivitas manusia di laut berkurang," katanya.

    Sebelumnya diberitakan, kebijakan jaga jarak sosial (social distancing) dengan kerja dari rumah atau work from home (WFH) selama pandemi COVID-19, serta curah hujan yang intens menjadi faktor yang memperbaiki kualitas udara Jakarta.

    Namun, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menyebutkan, WFH bukanlah faktor tunggal membaiknya kualitas udara Jakarta.

    Berdasarkan pemantauan di lima Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (SPKU) yang dikelola Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, hasilnya menunjukkan perbaikan kualitas udara, terutama menurunnya konsentrasi parameter PM 2.5 selama penerapan WFH.

    Penurunan ini juga konsisten dengan tingkat curah hujan. Ketika curah hujan tinggi, konsentrasi parameter PM 2.5 menunjukkan penurunan dan ketika hari-hari tidak hujan, konsentrasi parameter PM 2.5 sedikit meningkat.

    Selain itu, arah angin juga berpengaruh terhadap polutan jenis PM 2.5 ini atau partikel debu halus berukuran 25 mikrogram/m³. 

    Hal tersebut juga dibuktikan pada pantauan Air Quality Index (AQI) AirVisual pada 2 April 2020 sekitar pukul 10.12. Jakarta pada urutan ke-62 dari urutan kota-kota berpolusi tinggi yang artinya kualitas udara Jakarta lebih baik dari 61 kota lainnya di dunia, dengan Air Quality Index (AQI) di angka 47.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.