Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Selain Kasus Pembunuhan Vina, Polisi Masih Berupaya Ungkap Kematian Akseyna di UI Depok

image-gnews
Akseyna Ahad Dori, seorang mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang ditemukan tewas di Danau Kenanga UI pada 26 Maret 2015. Saat ditemukan, Akseyna menggunakan tas yang diisi batu sebagai pemberat. Hingga delapan tahun berlalu, polisi belum dapat menemukan tersangka pembunuhan.  Facebook/Peduli Akseyna
Akseyna Ahad Dori, seorang mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang ditemukan tewas di Danau Kenanga UI pada 26 Maret 2015. Saat ditemukan, Akseyna menggunakan tas yang diisi batu sebagai pemberat. Hingga delapan tahun berlalu, polisi belum dapat menemukan tersangka pembunuhan. Facebook/Peduli Akseyna
Iklan

TEMPO.CO, DEPOK - Kapolres Metro Depok Komisaris Besar Arya Perdana mengatakan jajarannya masih berupaya mengungkap tabir kematian Akseyna Ahad Dori yang sudah mengendap selama 9 tahun. Arya mengungkapkan pihaknya baru melakukan audiensi dengan Universitas Indonesia (UI) dan keluarga korban. "Yang kami sampaikan adalah kejadian ini sudah memakan waktu kurang lebih sembilan tahun," kata Arya, Rabu, 5 Juni 2024.

Polres tidak melakukan penyidikan dari awal, karena sudah ada tindakan penyidikan yang dilakukan di awal dan tinggal melanjutkan. "Cuma dalam prosesnya, tentu penyidikan di awal ini tidak sempurna, itu lah sebabnya masih belum terungkap, maka kami berupaya menyempurnakan dengan mengoreksi penyidikan terdahulu dengan keadaan sekarang," tutur Arya.

Bahkan, lanjut Arya, pihaknya menggunakan ahli-ahli dari UI yang akan didatangkan untuk menambah masukan bagi polisi dalam mengungkap kasus kematian Akseyna. "Kemarin juga sudah disampaikan ada beberapa poin dari pihak keluarga yang mempertanyakan hal-hal yang belum ditanyakan kepada saksi, misalnya gitu," ujar Arya.

Ihwal saksi-saksi yang sebelumnya diperiksa penyidik, Arya menyatakan tak menutup kemungkinan mereka akan dipanggil kembali untuk memperkaya pengetahuan dari penyidikan. "Sehingga kami bisa menarik satu konklusi dalam melanjutkan penyidikan ini ke tahap berikutnya," kata Arya.

Ditanya saksi dan bukti baru, Arya mengaku sampai saat ini belum bisa membicarakannya. Namun pihaknya berupaya memanfaatkan alat bukti yang ada saat ini. "Kami baca ulang satu-satu, kami telisik satu-satu, mulai dari hasil autopsi, keterangan saksi, hasil pemeriksaan dari Labfor, apsifor, merekon news tanda tangan, itu kami gabungkan semua dan diusahakan untuk di-review ulang, sehingga kami bisa melanjutkan penyelidikannya," ujar Arya.

Arya juga mengatakan kasus ini belum terungkap karena kendalanya penemuan korban tidak langsung dikenali, berdasarkan berita acara sudah ditemukan setelah itu tidak diketahui identitas korban. "Itu di awal, sehingga sampai 4-5 hari kemudian, setelah orang tua korban datang, mereka yang mengenali anaknya, kita baru tahu ini identik dengan barang-barang yang pernah diberikan dan dimiliki korban," terang Arya.

Lima hari dari penemuan jenazah Akseyna membuat polisi terhambat melakukan penyidikan di awal, baru setelah itu kita melakukan autopsi, kemudian pencarian ke TKP, rumah kos korban dan lainnya. "Dalam lima hari tentu banyak yang terjadi dan sudah berubah, itu pada 2015 pada saat itu, bahkan kasus ini sempat ditarik ke Polda, lalu dikembalikan lagi ke Polres," kata Arya.

Dengan kondisi seperti itu, tegas Arya, pihaknya berupaya maksimal untuk menemukan fakta-fakta di 5 hari yang hilang tersebut. "Dengan lima hari kira-kira yang missed itu apa dan itu sedang kami kejar. Tidak mudah memang kami kembali ke 2015 dan mencari lima hari yang hilang itu apa-apa saja yang berubah dan sudah hilang," ujar Arya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Ditanya akan ada olah TKP ulang, Arya menilai belum karena jika ke TKP danau hingga ke kos-kosan korban tentu sudah banyak berubah. "Tanda-tanda itu mungkin saja sudah tidak ada, tapi nanti akan kami pertimbangkan untuk datang ke sana," ujarnya.

Disinggung terkait target penyelesaian, Arya menegaskan secepatnya untuk mengungkap kasus tersebut akan lebih baik. "Karena begini, setiap pimpinan di Polres ini bertujuan membuat situasi Depok menjadi lebih baik, tidak pernah kita melakukan hal-hal yang tidak baik, termasuk mengungkap kejahatan-kejahatan yang belum terungkap," katanya.

Tetapi, Arya menambahkan, jika memang belum atau masih dalam usaha, tentunya menjadi ikhtiar bersama dan jangan menilai polisi tidak berbuat. "Setiap minggu kami rapat mengenai hal ininapakah ada bukti baru, saksi baru. Kami gelar perkara hampir setiap bulan satu kali, tapi tiap minggu selalu saya tanyakan ada perkembangannapa enggak, tapi gelar perkaranya untuk kumpul satu tim itu sebulan sekali," ungkap Arya.

Untuk mengurai kasus tersebut, Arya mengatakan sudah ada 38 saksi yang dimintai keterangan, namun yang menjadi saksi kunci tidak sampai 30 orang. "Hanya mungkin ada yang tahu 'oh iya saya tahu ada jenazah di situ', saya terakhir ketemu tanggal sekian, saksi-saksi ini kita gabungkan rangkaiannya," kata Arya.

Kemudian ada kendala saat itu CCTV juga tidak ditemukan, sehingga membuat polisi harus bekerja keras untuk mengumpulkan bukti-bukti di lapangan. "Nanti kaminakan pertimbangkan untuk memanggil saksi setelah data lengkap," ucap Arya.

Pada 26 Maret 2015 atau pada tujuh tahun yang lalu, mahasiswa jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UI Akseyna Ahad Dori ditemukan mengambang di Danau Kenanga, UI. Akseyna ditemukan mengambang 1 meter dari tepi danau yang memiliki kedalaman 1,5 meter. Sementara dalam tas yang digendong Akseyna ditemukan beberapa batu dan juga luka lebam di tubuh.

Pilihan Editor: Saksi Ungkap SYL Belum Bayar Tagihan Perjalanan Dinas ke Spanyol Rp 1 Miliar

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Depok Ungkap Kesepakatan Terkini di TPPAS Lulut-Nambo: Operasional Akhir Juli, 50 Ton Dulu untuk 4 Daerah

6 jam lalu

Foto udara Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Lulut Nambo yang belum beroperasi di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat 17 Mei 2024. Percepatan operasional TPPAS Lulut Nambo yang ditargetkan mampu mengolah 2.300 ton sampah perhari itu merupakan kepentingan lintas kabupaten/kota untuk  melayani empat wilayah lintas provinsi, yakni Kota/Kabupaten Bogor serta Kota Depok (Jawa Barat), dan Kota Tangerang Selatan (Banten) dan akan beroperasi pada Juni 2024 mendatang. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya
Depok Ungkap Kesepakatan Terkini di TPPAS Lulut-Nambo: Operasional Akhir Juli, 50 Ton Dulu untuk 4 Daerah

Dari kesepakatan kapasitas awal tersebut, Depok hanya dapat jatah 5 ton. Kapasitas TPPAS Lulut-Nambo perencanaannya sampai 2.300 ton per hari.


Polres Metro Depok Gelar Operasi Patuh Jaya 2024, Ini Sasaran Pelanggaran dan Titik Lokasi Operasi

8 jam lalu

Petugas Kepolisian bertugas saat Operasi Patuh Jaya 2023 di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Senin 10 Juli 2023. TEMPO/ Febri Angga Palguna
Polres Metro Depok Gelar Operasi Patuh Jaya 2024, Ini Sasaran Pelanggaran dan Titik Lokasi Operasi

Polres Metro Depok menggelar Operasi Patuh Jaya 2024 selama 2 pekan dari 15 hingga 28 juli 2024 mendatang.


Wakil Wali Kota Sebut Siapkan Subsidi untuk BISKITA Trans Depok

14 jam lalu

Penumpang saat menaiki Biskita Trans Depok di Terminal Depok Baru, Margonda, Depok, Jawa Barat, Minggu, 14 Juli 2024. Pada tahap awal, layanan Biskita Trans Depok akan melintasi 45 pemberhentian dengan pemberangkatan setiap 10 menit sekali. TEMPO/M Taufan Rengganis
Wakil Wali Kota Sebut Siapkan Subsidi untuk BISKITA Trans Depok

Wakil Wali Kota Depok Imam Budi Hartono mengajak warga untuk memaksimalkan keberadaan layanan Bus By the Service (BTS) BISKITA Trans Depok.


Depok Akan Larang Secara Bertahap Angkot yang Sudah Uzur

1 hari lalu

Armada angkot AC saat uji coba di Terminal Jatijajar, Kecamatan Tapos, Depok, Jumat, 12 Juli 2024. TEMPO/Ricky Juliansyah
Depok Akan Larang Secara Bertahap Angkot yang Sudah Uzur

Pemkot Depok tengah melakukan uji coba angkot AC dengan rute Terminal Depok-Terminal Jatijajar bertarif Rp 1.000 selama masa uji coba.


Histeris Anaknya Lulus SIMAK UI, Ussy Sulistiawaty: Susah Perjuangannya

1 hari lalu

Andhika Pratama dan Ussy Sulistiawaty menghadiri acara kelulusan SMA anaknya, Syafa Azzahra. Foto: Instagram/@ussypratama
Histeris Anaknya Lulus SIMAK UI, Ussy Sulistiawaty: Susah Perjuangannya

Anak kedua Ussy Sulistiawaty diterima di jurusan Psikologi UI, setelah sempat mengalami beberapa kali kegagalan.


Cerita Pegi Setiawan Detik-Detik Ditangkap Polisi dan Kaki Diinjak Penyidik

1 hari lalu

Petugas Kepolisian menggiring tersangka kasus pembunuhan Pegi Setiawan untuk dihadirkan pada konferensi pers yang digelar di Gedung Ditreskrimum Polda Jabar, Bandung, Jawa Barat, Minggu 26 Mei 2024. Polda Jabar berhasil menangkap Pegi Setiawan alias perong atas dugaan kasus pembunuhan Vina Dewi Arsita dan Muhammad Rizky yang terjadi di Cirebon pada tahun 2015 silam. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Cerita Pegi Setiawan Detik-Detik Ditangkap Polisi dan Kaki Diinjak Penyidik

Pegi Setiawan menceritakan detik-detik dirinya ditangkap personel Polda Jawa Barat atas tuduhan pelaku pembunuhan Vina dan Eky


Aplikasi Depok Single Window Diretas, Pelaku Tinggalkan Pesan

1 hari lalu

Tangkapan layar aplikasi DWS yang diretas, Sabtu, 13 Juli 2024.
Aplikasi Depok Single Window Diretas, Pelaku Tinggalkan Pesan

Kelompok Garuda Security X Masyarakat Indonesia meretas Aplikasi Depok Single Window (DSW) milik Pemerintah Kota Depok.


LPSK Lakukan Asesmen Psikologi Bagi Para Saksi dan Korban Kasus Kematian Afif Maulana

2 hari lalu

Orangtua Afif Maulana, pelajar SMP yang tewas diduga dianiaya oknum polisi, menabur bunga di pusara anaknya di pemakaman umum (TPU) Tanah Sirah, Padang, Sumatera Barat, Rabu, 10 Juli 2024. Keluarga Afif Maulana bersama LBH Padang dan mahasiswa menggelar doa bersama dan tabur bunga bertepatan dengan 31 hari meninggalnya Afif Maulana dan keluarga berharap mendapatkan keadilan atas peristiwa itu. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra
LPSK Lakukan Asesmen Psikologi Bagi Para Saksi dan Korban Kasus Kematian Afif Maulana

LPSK mulai melakukan serangkaian asesmen psikologi saksi dan korban dalam kasus kematian Afif Maulana pada Sabtu, 13 Juli 2024.


Depok Bakal Luncurkan Angkot Ber-AC dengan Pembayaran Nontunai

2 hari lalu

Armada Angkot AC saat uji coba di Terminal Jatijajar, Kecamatan Tapos, Depok, Jumat, 12 Juli 2024. TEMPO/Ricky Juliansyah
Depok Bakal Luncurkan Angkot Ber-AC dengan Pembayaran Nontunai

Sebentar lagi di Depok akan meluncur angkot berpendingin udara dengan pembayaran nontunai. Kadishub Kota Depok Zamrowi menyebut baru ada 10 unit.


Peristiwa Hukum Sepekan Ini: Pegi Setiawan Bebas, Syahrul Yasin Limpo Divonis 10 Tahun

2 hari lalu

Terdakwa bekas Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo, mengikuti sidang pembacaan surat amar putusan, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis, 11 Juli 2024. Majelis hakim menjatuhkan putusan terhadap Syahrul Yasin limpo, pidana penjara badan selama 10 tahun, denda Rp.300 juta subsider 4 bulan kurungan, membayar uang pengganti Rp.14.147.144.786 miliar dan 30.000 Dollar AS. TEMPO/Imam Sukamto
Peristiwa Hukum Sepekan Ini: Pegi Setiawan Bebas, Syahrul Yasin Limpo Divonis 10 Tahun

Peristiwa hukum pekan ini antara lain Pegi Setiawan menang praperadilan bebas status tersangka dan vonis 10 tahun pidana penjara Syahrul Yasin Limpo.