Asosiasi Pedagang Tolak Hipermarket Dekat Pasar Tradisional

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Maraknya pembangunan hipermarket yang seakan tumbuh tanpa kendali kian meresahkan para pedagang pasar tradisional. Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Cabang Jembatan Besi, Jakarta Barat, Selasa (19/4) mengeluarkan pernyataan penolakan adanya hipermarket dan jaringannya di dekat pasar tradisional. Mereka juga menolak diterbitkannya berbagai izin pendirian hipermarket baru. Pernyataan ini disampaikan APPSI melalui gerakan satu juta tanda tangan untuk mencari dukungan. "Kami tidak permasalahkan banyaknya hipermarket, tapi jangan sampai menyalahi aturan yang disahkan pemda," kata Ketua Umum APPSI Jembatan Besi, Sunardi, kepada Tempo, Selasa. Sunardi yang juga pedagang alat-alat tulis ini menilai keberadaan hipermarket di dekat pasar Jembatan Besi sudah menyalahi Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 44 Tahun 2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perpasaran Swasta di Provinsi DKI Jakarta yang membuka tokonya mulai pukul 07.00 WIB. "Padahal menurut aturan minimal dibuka mulai pukul 09.00-22.00 WIB," kata Sunardi.Eman Koniman, Wakil Ketua Umum APPSI Jembatan Besi, yang juga pedagang sandal mengatakan, keberadaan hipermarket menyalahi surat keputusan gubernur karena menurut pasal 8 (a) jarak antara pasar dan hipermarket minimal 500 meter. "Tapi kini, jarak 200 meter saja sudah ada hipermarket," ujarnya. Manajer Areal 11 PD Pasar Jaya, Hidayat, ketika dimintai konfirmasi menyatakan keprihatinannya. "Saya prihatin dengan adanya kompetitor buat pedagang pasar," kata Hidayat. Namun, Hidayat menambahkan, di era globalisasi ini persaingan sudah biasa. "Apalagi sekarang zaman AFTA," katanya. Harga barang di hipermarket lebih murah, kata dia, karena menyediakan barang dengan sistem konsinyasi. Namun, ia tidak menjelaskan lebih lanjut upaya PD Pasar Jaya untuk menanggulangi keluhan pedagang pasar. "Kalau masalah buka jam 7, sebaiknya diperbaiki sistem pengawasan dari pemerintah yang mengatur masalah hipermarket," ujarnya. Deni Mukbar - Tempo

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.