Paralayang Asian Games 2018 di Puncak, Ini Dampak Buat Warga

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aksi atlet paralayang Indonesia Joni Efendi saat mendarat pada babak keenam nomor ketepatan mendarat Asian Games 2018 di Cisarua, Bogor, Jawa Barat, Rabu, 22 Agustus 2018. ANTARA FOTO/INASGOC/Tagor Siagian

    Aksi atlet paralayang Indonesia Joni Efendi saat mendarat pada babak keenam nomor ketepatan mendarat Asian Games 2018 di Cisarua, Bogor, Jawa Barat, Rabu, 22 Agustus 2018. ANTARA FOTO/INASGOC/Tagor Siagian

    TEMPO.CO, Bogor - Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Bogor, Wawan Haikal menyebutkan keberadaan arena Paralayang yang digunakan untuk Asian Games 2018 memberikan dampak positif bagi sosial ekonomi warga setempat.

    Baca: Penutupan Asian Games 2018 Tak Lagi Kolosal, Gantinya ...

    "Khusus warga Kampung Pensiunan, dengan adanya kegiatan Asian Games ini merasakan dampaknya, mulai dari jasa ojek, angkutan dan warga bisa berjualan," kata Wawan di arena Paralayang, Gunung Mas Puncak, Kabupaten Bogor, Jumat 31 Agustus 2018.

    Kawasan Puncak ditunjuk oleh Panitia Penyelenggara Asian Games ke-18 ( INASGOC) sebagai arena cabang olahraga Paralayang yang diikuti sekitar 112 atlet dari 18 negara.

    Pemerintah Kabupaten Bogor didukung oleh DPRD melakukan renovasi arena Paralayang Gunung Mas Puncak, dengan menganggarkan dana Rp10 miliar.

    "Anggaran tersebut dialokasikan untuk memperbaiki arena Paralayang dengan membangun sejumlah fasilitas, seperti di lokasi take off ada gedung serba guna, dan landasaan yang diperbaharu. Dan di landing juga dibangunan mushola, gedung pertemuan, serta memperluas area landing," katanya.

    Pemkab juga Bogor bekerja sama dengan PTPN VII sebagai pemilik lahan untuk mengelola arena Paralayang seluas 2,8 hektare, berupa area take off seluas 8000 meter persegi dan sisanya, dua hektare di area pendaratan.

    "Pengelolaan penuh arena Paralayang ada di Pemkab Bogor melalui Dinas Pariwisata. Untuk pengelolanya oleh PGPI Kabupaten Bogor," kata Wawan.

    Warga Bogor merasa bangga dipercaya sebagai arena Paralayang untuk Asian Games. Keberadaan arena ini telah membawa dampak positif bagi masyarakat.

    Hampir setiap hari ada wisatawan yang datang untuk melakukan tandem atau terbang dengan pilot berlisensi. Satu orang dibanderol Rp 550 ribu.

    Arena Paralayang Puncak juga menjadi sekolah penerbangan bagi pilot-pilot junior dengan biaya Rp 7 sampai 8 juta langsung mendapatkan lisensi.

    "Kebanyakan wisatawan yang datang dari Timur Tengah," kata Haikal yang juga Ketua PGPI Kabupaten Bogor.

    Kehadiran arena Paralayang, juga melahirkan atlet-atlet paralayang dari Kampung Pensiunan. Seperti Dede Misbah, Dede Supratman, Aris Apriansyah, Iyus Partama, dan Munir yang kini melatih tim Nasional Thailand.

    Baca: Penutupan Asian Games 2018, Inasgoc Sediakan 40 Lokasi Parkir

    Tidak hanya Asian Games 2018, arena Paralayang Gunung Mas juga dipercaya sebagai arena SEA Games 2011 dan kejuaraan dunia WPAC tahun 2015 yang melahirkan Dede Supratman sebagai juara dunia. "Total ada 30 atlet paralayang dan gantole yang terdaftar di PGPI Kabupaten Bogor," katanya.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.