BMKG Sebut Jakarta Berpotensi Hujan Hari Ini dan Besok

Reporter:
Editor:

Febriyan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua orang warga menggunakan payung melintas di samping seorang buruh yang melindungi dirinya dari guyuran air hujan menggunakan terpal plastik, di kawasan jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, 5 Desember 2016. BMKG memprediksi hujan lebat disertai petir akan melanda Indonesia hingga awal 2017, serta menghimbau masyarakat untuk berhati-hati terhadap dampak yang ditimbulkan dalam menghadapi cuaca ekstrem. TEMPO/Imam Sukamto

    Dua orang warga menggunakan payung melintas di samping seorang buruh yang melindungi dirinya dari guyuran air hujan menggunakan terpal plastik, di kawasan jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, 5 Desember 2016. BMKG memprediksi hujan lebat disertai petir akan melanda Indonesia hingga awal 2017, serta menghimbau masyarakat untuk berhati-hati terhadap dampak yang ditimbulkan dalam menghadapi cuaca ekstrem. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi terjadinya hujan dengan intensitas sedang hingga lebar di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) masih cukup besar pada hari ini hingga besok, 9-10 Oktober 2019. Hal terseut disampaikan oleh Kepala Subbidang Analisis Informasi Iklim BMKG, Adi Ripaldi.

    “Agar waspada terkait potensi hujan dengan intensitas tinggi di wilayah Jabodetabek, terutama di bagian selatan, yang diprakirakan terjadi pada tanggal 10 Oktober 2019,” tutur Adi. Ia menambahkan, selepas itu potensi hujan di area Jabodetabek akan kembali rendah.

    Adi mengatakan kalau hujan yang terjadi kemarin malam, Selasa, 8 Oktober 2019, bukan penanda peralihan ke musim penghujan. Menurut dia, hujan dipicu oleh proses pembentukan awan hujan yang bersifat konvektif dari aktivitas penguapan laut di sekitar Jakarta.

    Awan itu bergerak menuju wilayah pegunungan di Bogor dan sekitarnya. Adanya pola angin konvergen dan pola siklonik di Jawa bagian Barat, kata Adi, mendukung pengangkatan massa udara untuk tumbuh menjadi awan yang berpotensi hujan.

    “Kondisi cuaca lokal sangat berperan di sini,” tutur dia.

    Menurut pantauan BMKG, pada hujan kemarin malam sekitar pukul 18.30 WIB pertumbuhan awan konvektif menyebar ke wilayah Kota Tangerang. Memasuki pukul 19.30 WIB, penyebaran mulai meluas ke hampir seluruh wilayah Bogor, Depok, Bekasi bagian Barat, Tangerang Kota, dan Jakarta khususnya bagian Selatan.

    Sebelumnya, BMKG mencatat ada 10 wilayah di DKI Jakarta yang mengalami kemarau ekstrim atau lebih dari 100 hari tanpa hujan (HTH). Wilayah tersebut antara lain adalah Kecamatan Istana, Angke, Kebangan Utara, Cideng, Pulogadung, Kamayoran, Rawa Badak.

    Adi mengatakan wilayah paling tinggi HTH, yakni Rawa Badak di Jakarta Utara yang mengalami 136 hari tanpa hujan. Lalu wilayah Jakarta Utara lain, yaitu Sunter Kodama 114 HTH dan Stamar Tanjung Priok 114 HTH. Selanjutnya Pulodagung, Jakarta Timur 114 HTH. Di Jakarta Selatan di Setia Budi Timur 114 HTH.

    Berikutnya wilayah masuk ke dalam kategori 100 hari tanpa hujan di Jakarta Barat ada Kembangan Utara sudah 113 HTH. Daerah terbanyak ada di wilayah Jakarta Pusat, yaitu Angke Hulu 107 HTH, Istana 113 HTH, Karet P 107 HTH dan Slamet Kemayoran 114 HTH.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.