Tak Kunjung Dapat Kejelasan, Pencari Suaka Akan Demo UNHCR Besok

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pencari suaka beraktivitas di trotoar di dekat kantor Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa, 17 September 2019. ANTARA/Aditya Pradana Putra

    Sejumlah pencari suaka beraktivitas di trotoar di dekat kantor Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa, 17 September 2019. ANTARA/Aditya Pradana Putra

    TEMPO.CO, Jakarta - Para pencari suaka dari berbagai negara yang saat ini tinggal di gedung eks Kodim, Kalideres, Jakarta Barat akan menggelar demonstrasi di kantor Komisi Tinggi Perserikatan Bangsa Bangsa untuk Pengungsi atau UNHCR di Jalan Kebon Sirih pada Kamis, 10 Oktober 2019.

    Salah seorang pengungsi asal Afghanistan, Muhammad Sadiq, 25 tahun, mengatakan kalau mereka akan mengawali aksi dengan long march dari Kalideres ke Kebon Sirih. “Kami akan berangkat ke Kebon Sirih jam 9 pagi dengan berjalan kaki,” ujar dia lewat pesan pendek, Rabu, 9 Oktober 2019.

    Sadiq mengatakan para pengungsi yang berjumlah sekitar 500 orang itu akan menuntut kepastian terkait tempat tinggal kepada UNHCR. Mereka juga ingin tahu sudah sejauh mana proses keberangkatan ke negara ketiga yang tengah diurus lembaga PBB itu.

    Menurut Sadiq, mereka tak akan kembali ke Kalideres. Para pengungsi bertekad untuk tinggal di depan kantor UNHCR sampai mendapat kepastian nasib mereka. “Kami tidak akan kembali (ke Kalideres) sebelum ada kepastian dari UNHCR,” ujarnya.

    Rencana pencari suaka untuk kembali tinggal di trotoar depan kantor UNHCR sebelumnya sempat muncul awal Oktober ini. Sebab, uang yang diberikan oleh Badan Pengungsi Dunia sebagai kompensasi atas pengosongan gedung eks Kodim itu dianggap tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari para pengungsi tersebut.

    Seorang pencari suaka, Nurullah Fatih, mengungkapkan uang kompensasi yang diberikan oleh UNHCR sebesar Rp 1,3 juta tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Apalagi, pencari suaka asal Afganistan itu tinggal bersama istri dan satu anaknya. “Rp 1,3 juta itu hanya untuk sewa kos satu kamar, terus untuk makannya mana?” keluhnya di gedung eks Kodim beberapa waktu lalu.

    Para pengungsi itu sebelumnya telah mengokupasi trotoar Kebon Sirih pada Juli lalu. Pemprov DKI kemudian memindahkan mereka ke gedung eks Kodim, Kalideres agar tak mengganggu ketertiban.

    Para pencari suaka sempat tinggal di sana selama kurang lebih satu bulan. Kemudian UNHCR membagikan sejumlah uang agar mereka keluar dari gedung eks Kodim dan hidup sendiri. Namun mereka tetap memilih kembali ke Kalideres.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.