Anies Baswedan Ingin Tingkatkan Rapid Test Dengan Uji Swab

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas kesehatan mengambil sampel darah warga saat melakukan rapid test untuk deteksi virus corona di halaman Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, 31 Maret 2020. Rapid test dianggap efektif untuk mengetahui peta wilayah sebaran virus corona yang menginfeksi warga. Sayangnya tes ini masih terbatas di kalangan warga ODP dan PDP yang telah disaring terlebih dahulu karena keterbatasan test kit. TEMPO/Prim Mulia

    Petugas kesehatan mengambil sampel darah warga saat melakukan rapid test untuk deteksi virus corona di halaman Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, 31 Maret 2020. Rapid test dianggap efektif untuk mengetahui peta wilayah sebaran virus corona yang menginfeksi warga. Sayangnya tes ini masih terbatas di kalangan warga ODP dan PDP yang telah disaring terlebih dahulu karena keterbatasan test kit. TEMPO/Prim Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan akan meningkatkan rapid test Corona dengan pemeriksaan tes swab atau cairan di tenggorokan. Upaya itu diambil agar akurasi pemeriksaan dengan hasil positif lebih tinggi dari rapid test yang menggunakan sampel darah.

    "Kami perlu meningkatkan kemampuan untuk menggunakan tes menggunakan swab dengan mengambil sampel dari liur. Nah, ini yang perlu kami tingkatkan karena tingkat akurasinya memang cukup tinggi," ujar Anies saat telekonferensi dengan Wakil Presiden RI, Kamis 2 April 2020.

    Anies menyebutkan DKI tengah mengembangkan laboratorium yang ada di Jakarta untuk bisa mengekstrasi sehingga proses pemeriksaan bisa dikerjakan lebih cepat.

    Menurut di, Pemprov DKI telah berkonsolidasi dengan laboratorium yang ada di Jakarta untuk mengembangkan kapasitas. Sebab dari tren yang terjadi di Jakarta, setiap hari kasus positif Corona terus bertambah.

    Anies mendorong agar pemeriksaan yang lebih cepat dilakukan juga di level nasional. Karena dengan hasil yang keluar lebih cepat bisa langsung mengambil tindakan untuk menghentikan penularan. "Banyak dari kasus itu terlambat tahunya, terlambat penanganannya. Akibatnya fatal atau kita terlambat mendeteksi sehingga dia sudah menularkan kepada yang lainnya," ujarnya.

    Anies Baswedan menyebutkan kondisi penularan wabah Corona di Jakarta sudah mengkhawatirkan. Menurut dia, sejak kasus pertama kurva penularan Covid-19 di Jakarta terus naik dan belum terlihat turun atau merata. Hingga Kami, 2 April 2020 tercatat 90 orang meninggal, 885 pasien positif Corona, dan 53 pasien sembuh.

    TAUFIQ SIDDIQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTUN: Blokir Internet di Papua dan Papua Barat Melanggar Hukum

    PTUN umumkan hasil sidang perihal blokir internet di Papua dan Papua Barat pada akhir 2019. Menteri Kominfo dan Presiden dinyatakan melanggar hukum.