Hakim Vonis 17 Terdakwa Bom Ikan 13 Bulan Penjara

Kamis, 2 Juli 2020 17:10 WIB

Tersangka Abdul Basith dihadirkan atas kepemilikan bom molotov saat rilis kasus di Polda Metro Jaya, Jakarta, 18 Oktober 2019. Abdul Basith merupakan dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) Fakultas Ekonomi dan Managemen telah mengundurkan diri sebagai Dosen. TEMPO/Genta Shadra Ayubi

TEMPO.CO, Tangerang - Majelis hakim Pengadilan Negeri Tangerang menjatuhkan vonis 13 bulan penjara kepada 17 terdakwa kasus bom ikan, Kamis, 2 Juli 2020. Majelis hakim yang diketuai Sucipto membacakan secara maraton tiga amar putusan dengan tiga nomor perkara dalam sidang yang berjalan secara virtual.

"Menjatuhkan pidana satu tahun satu bulan penjara dan tetap dalam kurungan. Terdakwa bersalah melanggar Pasal 1 ayat (1) UU Darurat RI No. 12 Tahun 1951 jo 55 ayat (1) ke 1 KUHP," kata Sucipto.

Pasal ini menyebut tentang perbuatan enam terdakwa yang telah menyimpan bom rakitan. Putusan ini diperuntukkan bagi mantan dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) Abdul Basith dan lima terdakwa lain, seperti Sugiono alias La Ode, Lao Ode Nadi, La Ode Samiun, La Ode  Aluani, dan Jaflan  Raali.

Adapun 11 terdakwa lain diantaranya Soni Santoso disebut melanggar pasal 169 ayat (1) KUHP tentang perkumpulan untuk melakukan kejahatan. Mereka divonis 1 tahun 1 bulan penjara.

Atas putusan itu Abdul Basith dan terdakwa lainnya yang menyimak persidangan dari dalam Lapas Pemuda Kelas 2A menyerahkan kepada penasihat hukum. Penasihat hukum Abdul Basith, Gufron, menyatakan pikir-pikir atas putusan tersebut.

"Harapan kami selaku penasihat Abdul Basith dkk sesuai dengan nota keberatan yang kami ajukan, tentunya klien kami diputus tidak bersalah dan dinyatakan bebas dari segala tuntutan JPU," kata Gufron usai persidangan. Dalam pleidoi setelah tuntutan beberapa waktu lalu Abdul Basith meminta agar nama baiknya direhabilitasi.

Tak hanya pengacara Abdul Basith yang pikir-pikir, pengacara Sony Santoso Alkatiri juga menyatakan hal sama. Dia sempat berucap Innalilahi saat vonis 1 tahun 1 bulan putusan bui bagi kliennya.

Menurut Gufron, Abdul Basith dan terdakwa lainnya sudah mencabut berkas perkara pada sidang pemeriksaan saksi mahkota. Gufron menyebutkan pada sidang sebelumnya para terdakwa mencabut berita acara pemeriksaan (BAP) dengan alasan proses pemeriksaan diawali dengan penyiksaan oleh penyidik. Tak hanya Abdul Basith, Tempo mencatat terdakwa lain termasuk Mulyono dan Okto Warsono juga menyatakan mencabut berkas perkara.

Gufron mengatakan selain mencabut berkas, Abdul Basith menyatakan dengan lugas di hadapan majelis hakim kalau dia mengalami penyiksaan selama dalam penyidikan di Polda Metro Jaya.

"Penyidik menurut Basith telah menganiaya memukul bahkan menutup kepala dengan kantong plastik hitam. Tapi itu sebelum didampingi penasihat hukum. Saya sendiri melihat bibirnya lebam. Tapi kami tidak bisa visum bahkan mendokumentasikan  karena dalam penyidikan penasihat hukum tidak boleh membawa telepon genggam," kata Gufron.

Gufron juga menyatakan banyak kejanggalan menyangkut kliennya. Abdul Basith tidak pernah merakit bom ikan. "Barang bukti bom molotov (bom ikan) itu tidak ditemukan di rumah di Bogor," kata dia.

Ia menyebut fakta persidangan jaksa penuntut tidak bisa menunjukkan barang bukti (bom ikan). Menurut dia, satpam yang menjadi saksi hanya melihat tujuh bekas botol kratingdaeng dan itu bukan bom seperti yang didakwakan.

Sementara jaksa penuntut umum Masdalianto menyatakan banding. Sebab tim JPU telah menuntut hukuman dua tahun penjara. Putusan hakim itu lebih rendah dari tuntutan JPU. "Kami banding," ujar JPU. 

Sebelumnya polisi menangkap dan menetapkan 17 terdakwa, termasuk Abdul Basith, dalam kasus bom ikan. Mereka disebutkan berencana meledakkan bom ikan dengan mendompleng Aksi Mujahid 212 pada 28 September 2019. Namun dalam persidangan mereka membantah telah bersekongkol hendak meledakkan bom ikan.

AYU CIPTA






Polisi Dalami Laporan soal Holywings Promo Miras untuk Muhammad-Maria

22 jam lalu

Polisi Dalami Laporan soal Holywings Promo Miras untuk Muhammad-Maria

Manajemen Holywings Indonesia dilaporkan ke Polda Metro Jaya karena promo miras bagi yang bernama Muhammad dan Maria


Sungai Cisadane Penuh Lumpur Akibat Banjir Cisarua, Pasokan Air PAM di Tangerang Terhenti

1 hari lalu

Sungai Cisadane Penuh Lumpur Akibat Banjir Cisarua, Pasokan Air PAM di Tangerang Terhenti

Perumdam Kabupaten Tangerang menyiapkan mobil tanki untuk mendistribusikan air PAM ke pelanggan. Berdampak pada 100 ribu lebih pelanggan.


Polda Metro Jaya Apresiasi Khilafatul Muslimin Bekasi Deklarasi Setia Pancasila

2 hari lalu

Polda Metro Jaya Apresiasi Khilafatul Muslimin Bekasi Deklarasi Setia Pancasila

Deklarasi tersebut menandakan kesadaran para korban Khilafatul Muslimin di Bekasi bahwa pemahamannya selama ini salah.


Sepekan Perluasan Ganjil Genap di Jakarta, Polisi Tilang 472 Pengendara

3 hari lalu

Sepekan Perluasan Ganjil Genap di Jakarta, Polisi Tilang 472 Pengendara

14 kawasan ganjil genap yang belum ada kamera ETLE-nya, tilang akan dilakukan secara manual oleh petugas kepolisian di lapangan.


9 Hari Operasi Patuh Jaya, Pelanggaran Terbanyak Tak Pakai Sabuk Pengaman

3 hari lalu

9 Hari Operasi Patuh Jaya, Pelanggaran Terbanyak Tak Pakai Sabuk Pengaman

Penindakan Operasi Patuh Jaya 2022 melalui tilang ETLE hingga hari ini sebanyak 1.909 dan teguran 19.566.


Seminggu Operasi Patuh 2022, 57.126 Kendaraan Pelanggar Ditindak

3 hari lalu

Seminggu Operasi Patuh 2022, 57.126 Kendaraan Pelanggar Ditindak

Selama sepekan Operasi Patuh 2022, polisi juga mencatat terjadi 241 kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan 17 orang meninggal dunia.


Mutasi Polri: Eks Dirlantas Polda Metro Jaya Sambodo Jadi Jenderal Bintang Satu

3 hari lalu

Mutasi Polri: Eks Dirlantas Polda Metro Jaya Sambodo Jadi Jenderal Bintang Satu

Dalam mutasi Polri ini, Dirlantas Polda Metro Jaya yang baru adalah Kombes Pol Latif Usman, yang menangani kasus kecelakaan Vanessa Angel.


Polisi Masih Dalami Kebenaran Preman Gunung Antang Beli Senpi Online

3 hari lalu

Polisi Masih Dalami Kebenaran Preman Gunung Antang Beli Senpi Online

Kepada polisi, preman di lokalisasi Gunung Antang ini mengaku merakit sendiri senjata apinya sehingga menjadi berjenis revolver.


Street Race di Sirkuit Formula E Dianggap Berbahaya, Polda Metro Jaya Cari Tempat Lain

3 hari lalu

Street Race di Sirkuit Formula E Dianggap Berbahaya, Polda Metro Jaya Cari Tempat Lain

Dirlantas Polda Metro Jaya belum memiliki lokasi alternatif Street Race berikutnya, setelah Sirkuit Formula E dianggap berbahaya untuk balapan motor.


Korban Kekerasan Seksual WNA Asal China Datangi PPA Polda Metro Minta Keadilan

4 hari lalu

Korban Kekerasan Seksual WNA Asal China Datangi PPA Polda Metro Minta Keadilan

Kasus dugaan tindakan kekerasan seksual ini terjadi setelah korban terus menerus dikontak oleh pelaku setelah mereka berkenalan lewat media sosial.