Biro Travel Jakarta Selatan Buka Lagi Layanan Umrah, Ini yang Harus Diperhatikan

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi haji atau umrah. REUTERS

    Ilustrasi haji atau umrah. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengusaha biro perjalanan umrah dan haji di wilayah Jakarta Selatan mulai membuka kembali layanan keberangkatan umrah setelah Pemerintah Arab Saudi memutuskan menerima jamaah yang hendak beribadah di Kota Suci Mekah dan Madinah.

    "Tentu kami sudah beraktivitas, membuka kembali layanan, baik untuk jemaah umrah yang baru mendaftar maupun yang sudah mendaftar sebelumnya," kata pendiri sekaligus pemilik Biro Perjalanan Umrah dan Haji Khusus Fatour Travel Indonesia, Firman Chandra kepada ANTARA di Jakarta, Selasa, 3 November 2020.

    Firman yang juga Ketua Bidang Advokasi Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji, Umrah Republik Indonesia (Amphuri) menyebutkan kegiatan perjalanan umrah pertama diawali dengan memberangkatkan pengurus DPP Amphuri ke Mekah.

    Sebanyak 250 pengurus DPP Amphuri yang berasal dari seluruh wilayah Indonesia berangkat menuju Jeddah pada 1 November 2020.

    Keberangkatan DPP Amphuri merupakan regu pertama asosiasi pengusaha biro perjalan haji dan umrah dari Indonesia dan merupakan biro umrah kedua di dunia setelah Pakistan yang berangkat ke Jeddah.

    "Tujuan keberangkatannya adalah untuk mengecek seperti apa umrah di masa new normal ini, karena banyak yang berubah dan ada pengetatan," kata Firman.

    Menurut Firman, beberapa yang berubah pada pelaksanaan umrah dimulai dari maskapai penerbangan yang boleh membawa jamaah hanyalah Saudi Airline, maskapai lainnya belum tersedia.

    Baca juga : Biro Travel: Biaya Umrah Naik hingga 40 Persen

    Perubahan berikutnya adalah jamaah wajib menjalani tes deteksi COVID-19 (PCR) di bandara. Apabila jamaah telah mengantongi tiket maskapai, tetapi hasil tes PCR menunjukkan positif, maka jamaah tersebut tidak dibolehkan berangkatdan uang keberangkatan diganti oleh biro perjalanan.

    "Aturan baru sekarang, jamaah yang berangkat langsung dibawa ke Jeddah, di sana diisolasi dulu selama tiga hari di hotel, tidak boleh keluar hotel," kata Firman.

    Dengan adanya masa isolasi ini, maka lama hari pelaksanaan umrah yang sebelumnya pandemi hanya sembilan hari, kini bertambah menjadi 12 hari.

    Selain jumlah hari pelaksanaan yang berubah, kelas hotel yang ditempati oleh jamaah juga harus bintang empat dan lima. Jika sebelum pandemi, jamaah bisa tinggal di hotel bintang tiga, saat ini hotel yang dibolehkan bintang lima.

    "Karena pertimbangannya, jika sewaktu-waktu jamaah bosan di dalam kamar bisa jalan-jalan di lobby, yang punya lobby hanya hotel kelas lima saja," katanya.

    Selama isolasi di hotel, jemaah umrah hanya bisa beribadah di lingkungan hotel, tidak dibolehkan ke Masjidil Haram atau masjid di luar hotel.

    Demikian pula untuk makanan, pihak hotel tidak lagi menyediakan makanan prasmanan. Semua diantar ke kamar dengan menu standar bintang lima. "Untuk isi kamar juga dibatasi hanya boleh dua orang, kalau sebelum pandemi empat orang satu kamar," katanya.

    Pihak hotel memiliki petugas yang mengawasi pergerakan jamaah. Jika ada yang keluar dari hotel selama masa isolasi akan diberi teguran oleh petugas bernama Muhasasah.

    Setelah tiga hari karantina, sebelum ke Masjidil Haram, wajib dites PCR terlebih dahulu, untuk memastikan jamaah benar-benar dalam kondisi sehat. "Umrah sekarang itu sangat limitasi, ini tujuannya untuk mencegah pandemi Covid-19 ini kan," kata Firman.

    Menurut Firman, setelah pemberangkatan pertama ini, akan ada pemberangkatan jamaah umrah selanjutnya pada 8 November 2020, dengan jumlah jemaah masih fluktuatif. Kepastian data jumlah baru akan diperoleh pada 5-6 November.

    ANTARA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ivermectin: Obat Cacing yang Digadang-gadang Ampuh dalam Terapi Pasien Covid-19

    Menteri BUMN Erick Thohir menilai Ivermectin dapat menjadi obat terapi pasien Covid-19. Kepala BPOM Penny K. Lukito menyebutkan belum ada penelitian.