Saat Rizieq Shihab Tanya Saksi Ahli dengan Pengandaian Ayah-Anak-Dokter

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana sepi massa pendukung saat berlangsungnya pengamanan sidang terdakwa Rizieq Shihab di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Selasa, 30 Maret 2021. Pengadilan Negeri Jakarta Timur akan melanjutkan sidang perkara dugaan pelanggaran protokol kesehatan dengan terdakwa Rizieq Shihab. Agenda sidang yakni penyampaian pendapat jaksa penuntut umum (JPU) atas nota keberatan atau eksepsi dari Rizieq Shihab.TEMPO/Subekti.

    Suasana sepi massa pendukung saat berlangsungnya pengamanan sidang terdakwa Rizieq Shihab di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Selasa, 30 Maret 2021. Pengadilan Negeri Jakarta Timur akan melanjutkan sidang perkara dugaan pelanggaran protokol kesehatan dengan terdakwa Rizieq Shihab. Agenda sidang yakni penyampaian pendapat jaksa penuntut umum (JPU) atas nota keberatan atau eksepsi dari Rizieq Shihab.TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Rizieq Shihab kembali menanyai saksi ahli menggunakan metode pengandaian kasus dengan tiga tokoh utama, yaitu ayah, anak dan dokter. Kali ini yang ditanyai adalah ahli Sosiologi Hukum sekaligus Rektor Universitas Ibnu Chaldun, Musni Umar.

    Rizieq menceritakan, kasus bermula ketika sang ayah ditanyai oleh temannya tentang kondisi kesehatannya. Pada saat itu, belum ada hasil pemeriksaan medis berupa tes PCR terhadap sang ayah, sehingga dijawab 'baik-baik saja'. Walau belakangan, ternyata sang ayah positif Covid-19.

    "Apakah itu bisa dikatakan kebohongan?," tanya Rizieq kepada Musni dalam sidang di Pengadilan Negeri atau PN Jakarta Timur, Selasa, 11 Mei 2021.

    "Secara sosiologis ini tidak bisa dikatakan sebagai kebohongan. Kalau kebohongan ada dampaknya seperti orang tertipu, merana dan mencipatakan kekacauan. Kalau ini kan, tidak," jawab Husni.

    Rizieq melanjutkan ceritanya. Sebelum hasil tes PCR sang ayah keluar, beredar berita-berita bohong. Bentuknya berupa kabar tentang sang ayah kritis hingga meninggal.

    "Sehingga terjadi keresahan. Para tokoh, ulama, dan habaib kemudian mengkonfirmasi berita-berita hoax itu kepada sang anak," kata Rizieq.

    Menurut Rizieq, sang anak lantas mengabarkan bahwa ayahnya baik-baik saja, karena belum ada hasil tes PCR. Beberapa orang lantas menyarankan si anak membuat video klarifikasi tentang kondisi kesehatan ayahnya. Tujuannya, kata Rizieq, untuk meredam berita bohong yang beredar sekaligus menenangkan pihak yang bertanya-tanya.

    Kepada Musni, Rizieq bertanya apakah tindakan anak itu merupakan kebohongan. Musni menjawab bahwa tindakan anak tersebut bukan kebohongan dan harusnya diapresiasi, karena telah meredam kegaduhan.

    Rizieq melanjutkan ceritanya. Atas munculnya berita-berita bohong tentang kesehatan sang ayah, sejumlah wartawan bertanya ke seorang dokter. Sang dokter itu bertugas di rumah sakit tempat si ayah dirawat.

    Pada saat itu, kondisinya juga sama, belum adanya hasil tes PCR. Maka, sang dokter mengabarkan kepada wartawan bahwa pasiennya dalam keadaan baik. Mantan pimpinan Front Pembela Islam ini bertanya lagi ke Musni, apakah tindakan sang dokter masuk dalam kategori kebohongan. Musni kembali menjawab tidak.

    "Kalau sudah ada hasil PCR bahwa dia (ayah) positif kemudian mengatakan baik-baik saja, itu cerita lain,"

    Musni adalah saksi ahli yang dihadirkan oleh tim kuasa hukum Rizieq Shihab. Pertanyaan dengan metode dan isi yang sama juga pernah disampaikan Rizieq kepada saksi ahli lain. Yaitu kepada saksi ahli yang dihadirkan jaksa penuntut umum, pakar sosiologi hukum dari Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah.

    Dalam perkara ini, Rizieq Shihab dan terdakwa lain seperti menantunya, Hanif Alatas dan Direktur Rumah Sakit atau RS Ummi Bogor, Andi Tatat didakwa telah menyebarkan berita bohong hingga menimbulkan keonaran di masyarakat. Kebohongan itu menyangkut informasi tentang hasil tes PCR Rizieq Shihab.

    Baca jugaJerat Pidana Rizieq Shihab dan Andi Tatat, Saksi: Logika Hukumnya Belum Masuk

    M YUSUF MANURUNG


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Aman Berkendara dan Beraktivitas di Tengah Lonjakan Kasus Covid-19

    Jika harus keluar rumah, masyarakat wajib waspada dan melindungi diri dari Covid-19. Simak tips aman berkendara saat kasus Covid-19 merajalela.