Begini Komnas HAM Selidiki Penyebab Kematian Maulana Suryadi

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Keluarga menabur bunga di pusara makam Maulana Suryadi, korban demonstrasi pelajar 25 September 2019.

    Keluarga menabur bunga di pusara makam Maulana Suryadi, korban demonstrasi pelajar 25 September 2019.

    TEMPO.CO, Jakarta -Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menyatakan bakal menyelidiki kematian Maulana Suryadi, 23 tahun. Korban tewas saat kerusuhan antara massa dengan polisi usai demonstrasi di DPR RI pada 25 September 2019 lalu.

    Komisioner Komnas HAM Amiruddin Al Rahab mengatakan lembaganya bakal segera menyelidiki peristiwa jatuhnya korban jiwa saat demonstrasi di DPR tersebut. “Kami akan segera mengklarifikasi ke pihak penegak hukum yaitu Polisi tentang persisnya apa yg terjadi,” kata Amiruddin, Sabtu, 5 Oktober 2019.

    Amiruddin mengatakan Komnas juga bakal menemui keluarga Maulana untuk mengetahui keterangan mereka terkait dengan kondisi korban. Komnas, kata dia, akan mengklarifikasi kasus kematian Maulana kepada tiga pihak, yakni keluarga, polisi dan saksi yang ada saat bersama korban. “Kami akan menemui keluarga korban atau keluarga korban juga bisa datang langsung ke Komnas,” ujarnya.

    Komnas menyesalkan jatuhnya korban jiwa saat terjadi kerusuhan usai demonstrasi massa di sekitar kawasan DPR. Menurut dia, semestinya polisi menghormati dan bisa memfasilitasi massa yang berunjuk rasa. Sebab, Komnas memandang bahwa kebabasan menyatakan pendapat setiap warga negara dilindungi.

    Selain itu, Komnas menghimbau setiap warga negara dalam menyatakan pendapat juga perlu memperhatikan aturan yang ada dan melakukannya secara damai. “Jadi kedua pihak baik massa maupun aparat harus sama-sama menghargai,” ujarnya.

     Maspupah mengatakan masih tidak percaya anaknya tewas karena sesak nafas. Dasarnya, wajah Maulana bengkak dan darah yang terus mengalir dari hidung dan kuping.

    “Saya masih syok. Sempat pingsan berkali-kali," katanya sambil membenarkan putrinya diminta membuat surat pernyataan kalau Maulan Suryadi meninggal karena asma dan ditandatanganinya. "Tapi saya tidak ingat isinya seperti apa karena saat itu saya sangat panik dan kaget.”

    Kapolri Jenderal Tito Karnavian sempat menyatakan bahwa korban tewas karena sesak nafas. Maspupah, ibu Maulana, tak percaya dengan ucapan Tito tersebut. Dia menduga anaknya merupakan korban penganiayaan karena pada jenazah Maulana ditemukan banyak bekas luka diduga karena benturan benda tumpul.

    Tak hanya itu, kuping dan hidung Maulana Suryadi juga terus mengeluarkan darah, bahkan hingga saat akan dikebumikan. "Nggak mungkin, masak meninggal karena asma sampai mengeluarkan darah dari hidung dan kuping begitu,” kata Maspupah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Wuhan Menjangkiti Kapal Pesiar Diamond Princess

    Jumlah orang yang terinfeksi virus korona Wuhan sampai Minggu, 16 Februari 2020 mencapai 71.226 orang. Termasuk di kapal pesiar Diamond Princess.