Komplotan Bom Ketapel Mau Lepaskan Monyet saat Pelantikan Jokowi

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketapel kayu pelontar peledak yang akan digunakan untiuk menggagalkan pelantikan Jokowi diperlihatkan oleh penyidik Polda Metro Jaya, Senin, 21 Oktober 2019. Tempo/M Yusuf Manurung

    Ketapel kayu pelontar peledak yang akan digunakan untiuk menggagalkan pelantikan Jokowi diperlihatkan oleh penyidik Polda Metro Jaya, Senin, 21 Oktober 2019. Tempo/M Yusuf Manurung

    TEMPO.CO, Jakarta - Komplotan bom ketapel yang berencana menggagalkan pelantikan Jokowi juga bermaksud melepaskan monyet ke sekitar gedung MPR/DPR saat acara berlangsung. 

    Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Argo Yuwono mengatakan kelompok yang diprakarsai SH itu telah membeli delapan ekor monyet untuk dilepaskan ke gedung MPR. 

    "Tujuannya untuk gaduh dan sebagainya," kata Argo di kantornya, Senin, 21 Oktober 2019.

    Rencana itu tak terlaksana karena kelompok itu ditangkap terlebih dahulu oleh polisi di sejumlah lokasi di Jakarta. Polisi meringkus enam orang dalam kasus ini yakni SH, E, FAB, RH, HRS dan PSM.

    Keenamnya berencana mengagalkan pelantikan presiden Jokowi dan Wapres Ma'ruf Amin yang berlangsung pada 20 Oktober 2019 dengan menggunakan peledak berbentuk bola plastik yang dilontarkan menggunakan ketapel. Para tersangka menyusun strategi menggagalkan pelantikan dalam sebuah grup Whatsapp.

    "Tersangka SH yang berperan membuat grup itu," ujar Argo.

    Selain berperan membuat grup Whatsapp, Argo berujar bahwa tersangka SH juga mencari dana untuk membeli perlengkapan peledak. Salah satu penyandang dana kegiatan kelompok itu adalah E, yang merupakan ibu rumah tangga.

    Tak sekadar memberikan dana, E juga turut terlibat pembuatan bola berisi bahan peledak itu. "Dia juga menyediakan tempat pembuatan peluru ketapel," kata Argo.

    Selain E, SH juga menerima bantuan uang Rp 1,6 juta dari tersangka FAB. Uang itu digunakan untuk biaya pembuatan peledak. Dia juga membantu membuat peluru ketapel itu.

    Tersangka RH merupakan orang yang membuat ketapel dari kayu. Ketapel itu dijual Rp 8 ribu per unit kepada SH. "Dia sudah menjual 22 ketapel," kata Argo.

    Tersangka HRS, juga memberikan dana sebesar Rp 400 ribu kepada HS untuk menggagalkan pelantikan Jokowi. Terakhir, tersangka PSM mendapat perintah dari SH membeli ketapel besi secara online, membeli karet pembuatan peluru dan plastik eksplosif sebagai bahan peledak.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.