Hotel dan Revitalisasi TIM, Anggota DPRD Bicara Rancangan 2007

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana hari terkahir bioskop XXI Taman Ismail Marzuki sebelum ditutup karena revitalisasi Taman Ismail Marzuki yang akan dikhususkan untuk pusat kebudayaan dan kesenian, Ahad 18 Agustus 2019. TEMPO /Taufiq Siddiq

    Suasana hari terkahir bioskop XXI Taman Ismail Marzuki sebelum ditutup karena revitalisasi Taman Ismail Marzuki yang akan dikhususkan untuk pusat kebudayaan dan kesenian, Ahad 18 Agustus 2019. TEMPO /Taufiq Siddiq

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota DPRD DKI Jakarta Pandapotan Sinaga menilai revitalisasi TIM yang dilakukan oleh PT Jakarta Propertindo (Jakpro) di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM) merupakan salah satu upaya Pemprov membantu seniman agar mendapatkan biaya untuk merawat pusat seni itu.

    Hal itu dikatakannya usai meninjau secara langsung revitalisasi kawasan Taman Ismail Marzuki tahap 1 menanggapi keluhan-keluhan para seniman yang menolak pembangunan hotel sebagai kawasan komersial.

    "Bukan masalah komersial atau tidak komersial. Saya katakan nanti bagaimana dia (para seniman) merawat fasilitas bangunannya ini kalau tidak ada sumbernya ini. Tidak selamanya biaya perawatan (TIM) Pemda DKI yang tanggung," kata Sekretaris Komisi B DPRD DKI itu saat ditemui di kawasan Taman Ismail Marzuki, Selasa, 26 November 2019.

    Selama peninjauan, Pandapotan menilai revitalisasi yang saat ini dikerjakan oleh Jakpro tidak menganggu para seniman untuk beraktivitas karena tidak mengunakan gedung- gedung yang biasa digunakan untuk berlatih ataupun pentas.

    "Setelah kita lihat turun ke lapangan, lokasi yang mau dibangun gedung itu semua yang dekat dulu tempat pedagang- pedagang dulu ada di sekitaran sini. Sementara gedung induk dan gedung teater tidak ada perubahan," kata pria yang juga politikus dari fraksi PDI Perjuangan (PDIP)..

    Lebih lanjut, Pandapotan menjelaskan pada 2007 memang rancangan utama revitalisasi TIM tidak menyediakan fasilitas hotel namun disesuaikan dengan perkembangan ekonomi sehingga pembangunan hotel yang nantinya bernama wisma TIM dipertimbangkan.

    Asisten perekonimian dan Setda DKI Sri Haryati saat ditemui dalam kesempatan yang sama mengatakan pembangunan wisma TIM yang nantinya diperuntukan untuk umum sudah melalui hasil koordinasi antara eksekutif Pemprov DKI, PT Jakpro sebagai pengelola, serta seniman- seniman.

    "Ini sudah didiskusikan ya Pemprov, Jakpro, seniman TIM," kata Sri.

    Diketahui para seniman TIM menolak adanya pembangunan hotel dalam revitalisasi kawasan pusat kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki yang akan dikelola oleh PT Jakarta Propertindo (Jakpro).

    Terkait revitalisasi TIM yang dinilai sudah bergeser, para seniman TIM menilai dengan adanya hotel yang direncanakan berbintang lima itu maka lambat laun orientasi kawasan budaya akan tergerus menjadi kawasan komersial.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.