Tembakau Gorila Asal Surabaya, Polisi: 100 Gram Dijual Rp 2 Juta

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi memeriksa barang bukti bahan tembakau gorilla saat penggerebekan pabrik ganja sintetis tersebut di Denpasar, Bali, 22 Maret 2018. Polisi bersama petugas Bea dan Cukai Soekarno Hatta dan Ngurah Rai mengungkap pabrik narkoba itu berdasarkan pengiriman paket narkoba golongan satu dari China. ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana

    Polisi memeriksa barang bukti bahan tembakau gorilla saat penggerebekan pabrik ganja sintetis tersebut di Denpasar, Bali, 22 Maret 2018. Polisi bersama petugas Bea dan Cukai Soekarno Hatta dan Ngurah Rai mengungkap pabrik narkoba itu berdasarkan pengiriman paket narkoba golongan satu dari China. ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana

    TEMPO.CO, Jakarta -Pengedar asal Surabaya mengemas tembakau sintetis atau tembakau gorila dengan tiga variasi.

    Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Komisaris Besar Herry Heryawan mengatakan paling mahal adalah 100 gram tembakau gorila yang dibungkus dengan plastik hitam. Harganya Rp 2 juta per bungkus.

    "Kemudian ada yang berwarna coklat itu harga Rp 600 ribu isi 50 gram. Kemudian ada 25 gram harganya Rp 400 ribu (plastik warna biru)," kata Herry saat konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu, 8 Februari 2020.

    Polisi menangkap 13 tersangka yang diduga masuk dalam jaringan peredaran tembakau gorila asal Surabaya. Mereka ditangkap di Jakarta, Bekasi, dan Surabaya sejak 27 Januari 2020. Menurut Herry, tersangka terdiri dari peracik dan pemasak tembakau.

    Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya merilis peredaran tembakau gorila jaringan Surabaya. Konferensi pers berlangsung di Polda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu, 8 Februari 2020. TEMPO/Lani Diana

    Tembakau gorila, Herry menambahkan, dimasak di Kabupaten Nganjuk dan Kota Malang, Jawa Timur.

    Hasil olahan kemudian dikemas di Surabaya untuk kemudian didistribusikan. Lokasi pengemasan di lantai 10 Apartemen High Point, Surabaya, Jawa Timur.

    "Seluruh peredaran tembakau gorila atau ganja sintetis ini dipasarkan atau diperjualbelikan lewat media sosial," ucap Herry.

    Dia berujar peredaran tembakau gorila dikendalikan oleh seorang narapidana berinisial DSP. DSP yang mengatur resep, takaran, hingga pengemasan tembakau gorila. Para peracik dan pemasak tembakau ini direkrut sejak September 2019.

    DSP sendiri, Herry menyebut, dipenjara karena kasus yang sama, tembakau gorila pada 2018. Dia mendekam di Lapas Sleman, Yogyakarta. Hingga kini polisi masih memburu satu buron.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.