Pencari Suaka di Kalideres Sulit Taat Protokol Kesehatan, Kenapa?

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para pencari suaka melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor UNHCR, Kebon Sirih, Senin, 13 Juli 2020. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Para pencari suaka melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor UNHCR, Kebon Sirih, Senin, 13 Juli 2020. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta -Para pengungsi asing pencari suaka yang tinggal di Kalideres mengeluhkan sulitnya menerapkan protokol kesehatan Covid-19 karena keterbatasan air bersih di lokasi pengungsian bekas gedung Kodim.

    Salah satu pengungsi asing, Wahid Ali mengatakan, selama masa pandemi Covid-19, para pengungsi kekurangan air bersih untuk mencuci tangan dan mandi.

    "Kami sulit untuk cuci tangan habis berkegiatan atau mandi dan mencuci baju dengan bersih. Karena kami kekurangan air bersih disini," ujar Ali di Jakarta, Jumat, 24 Juli 2020.

    Ali mengatakan air bersih hanya mengalir selama sepuluh jam di lokasi pengungsian di eks gedung Kodim, Jalan Bedegul, Kalideres, Jakarta Barat.

    Air bersih tersebut dibagikan untuk 210 pengungsi asing di dua kamar mandi. Masalah lainnya, di dalam lokasi pengungsian mereka tidak dapat jaga jarak satu sama lain.

    "Air enggak ada, listrik enggak ada. Di dalam satu tenda tinggal dua sampai tiga orang. Kalau ini enggak bisa social distancing," kata Ali.

    Meski demikian, Ali mengatakan pihak pemerintah Indonesia telah membagikan masker non-medis dan penyanitasi tangan untuk mencegah penyebaran Covid-19 di lingkungan tersebut sebanyak dua kali.

    "Kalau harapan dari pengungsi di sini mendapat tempat yang layak, lebih diperhatikan," kata Ali.

    Di lokasi pengungsian, para pencari suaka itu tampak tidak mengenakan masker, maupun saat berkumpul tidak menerapkan jaga jarak fisik.

    ANTARA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dari Alpha sampai Lambda, Sebaran Varian Delta dan Berbagai Varian Covid-19

    WHO bersama CDC telah menetapkan label baru untuk berbagai varian Covid-19 yang tersebar di dunia. Tentu saja, Varian Delta ada dalam pelabelan itu.